Tampilkan postingan dengan label Kajian IsLami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian IsLami. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 April 2010

Kiat Sehat Rasulullah SAW

Rasulullah bersabda:

�Mu�min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu�min yang lemah.� (HR Muslim)


Bagaimana agar senantiasa sehat seperti Rasulullah? Ikuti resep berikut ini:


Selalu Bangun Sebelum Subuh


Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan shalat sunah dan shalat fardhu, shalat subuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yang mendalam antara lain:


Berlimpah pahala dari Allah.

Kesegaran udara subuh yang bagus untuk kesehatan/ terapi penyakit Tubercolusis
Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.

Aktif Menjaga Kebersihan


Rasul selalu senantiasa rapi dan bersih, tiap hari kamis atau jumat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi.


�Madi pada hari jumat adalah wajib bagi setiap Muslim yang telah dewasa (baligh). Demikian pula menggosok gigi dan memakai wangi-wangian.� (HR Muslim)


Tidak Pernah Banyak Makan


Sabda Rasul:


�Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan).� (Muttafaq Alaih)


Dalam tubuh manusia ada tiga ruang untuk 3 benda: Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan.


Gemar Berjalan Kaki


Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainnya.


Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori-pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung.


Tidak Pemarah


Nasehat Rasulullah: �Jangan Marah� diulang sampai tiga kali. Ini menunjukan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.


Ada terapi yang tepat untuk menahan amarah:


Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring.

Membaca Ta�awwudz, karena marah itu datangnya dari syaitan.
Segeralah Berwudhu.
Shalat dua Rakaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati.

Optimis Dan Tidak Putus Asa


Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqamah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah Swt.


Tak Pernah Iri Hati


Untuk menjaga stabilitas hati dan kesehatan jiwa, mentalitas maka jauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.


Sumber: Buletin Jumat Masjid AT- Taqwa, Bandung

Jumat, 23 April 2010

Saat Kubur Jadi Tempat Ibadah

Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni rahimahullah ditanya mengenai ziarah kubur yang disyariatkan.
Beliau rahimahullah menjawab: Perlu diketahui bahwa ziarah kubur ada dua bentuk: ziarah kubur yang disyariatkan dan ziarah kubur yang jauh dari tuntunan Islam.
[Ziarah Kubur yang Disyariatkan]

Contoh dari ziarah kubur yang disyariatkan adalah mendoakan si mayit, sebagaimana dibolehkan juga melaksanakan shalat jenazah untuknya. Dasar dari hal ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menziarahi kubur Baqi’ dan kubur pada syuhada’ Uhud. Kemudian beliau mengajari para sahabatnya, jika mereka menziarahi kubur hendaklah membaca do’a: “Semoga keselamatan bagi kalian wahai negeri (peristirahatan sementara) kaum mukminin, dan kami insya Allah akan bertemu kalian. Semoga Allah merahmati kalian yang lebih dahulu dari kami dan kami pun akan menyusul kalian. Kami memohon pada Allah keselamatan pada kami dan kalian. Ya Allah, janganlah halangi ganjaran bagi mereka. Janganlah beri siksaan kepada mereka setelah itu. Ampunilah dosa-dosa kami dan mereka.”

Demikian pula setiap do’a orang mukmin untuk para nabi dan selainnya, sebagaimana kita temukan dalam pensyariatan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam hadits yang shahih, “Jika kalian mendengar muadzin (orang yang mengumandangkan adzan), maka katakanlah semisal yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah padaku karena barangsiapa yang bershalawat padaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10 kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku karena wasilah adalah suatu derajat di surga yang hanya diberikan pada hamba-hamba Allah. Aku berharap termasuk hamba yang mendapatkan wasilah tersebut. Barangsiapa yang meminta pada Allah wasilah untukku, maka ia pantas mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti. Setiap muslim yang mengucapkan salam untukku, Allah akan kembalikan ruhku padaku sampai aku balas salam tersebut.”

[Ziarah Kubur yang Jauh dari Tuntunan Islam]

Ziarah kubur yang jauh dari tuntunan Islam adalah ziarah kubur yang dilakukan oleh pelaku syirik yang sejenis ziarah kubur yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani. Mereka memaksudkan do’a pada mayit dan beristi’anah (meminta tolong) melalui mayit yang ada di dalam kubur. Berbagai hajat diminta melalui perantaraan penghuni kubur. Mereka pun shalat di sisi kubur dan berdoa melalui perantaraan si mayit. Perbuatan semacam ini sama sekali tidak pernah dilakukan oleh ulama masa silam dan para imam besar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menutup jalan agar tidak memasuki pintu syirik dengan melakukan semacam ini. Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di saat sakit menjelang kematiannya, “Sungguh Allah melaknat orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur Nabi mereka sebagai masjid (layaknya tempat ibadah). Dia telah memperingatkan apa yang mereka perbuat.” Aiyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Seandainya bukan karena sabda beliau ini, tentu kubur beliau akan ditampakkan di luar rumah. Sungguh dilarang jika ada yang menjadikan kuburannya sebagai masjid.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lima hari sebelum kematiannya, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan (para nabi dan orang-orang shalih dari mereka) sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu”.”

Dari sini, kita dapat melihat bahwa ziarah bentuk pertama yang disebutkan di awal termasuk jenis amalan yang dituntunkan dan bentuk ihsan (berbuat baik) terhadap sesama. Ziarah bentuk pertama tersebut dapat mensucikan hati sebagaimana yang Allah perintahkan (agar berziarah kubur untuk mengingat kematian). Sedangkan ziarah bentuk kedua termasuk bentuk syirik kepada Allah dan termasuk tindak kezholiman karena tidak menempatkan hak Allah dan hak hamba dengan benar. Dalam hadits yang shahih dikatakan, “Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat Allah menurunkan ayat (yang artinya): “Orang-orang beriman yaitu mereka yang tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezholiman” (QS. Al An’am: 82)”. Ketika mendengar ayat tersebut, para sahabat pun menjadi gelisah. Mereka pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Lantas siapakah –wahai Rasul- yang tidak berbuat zholim pada dirinya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya yang dimaksud zholim dalam ayat tersebut adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar perkataan seorang hamba yang sholih (yang artinya), “Sesungguhnya syirik adalah kezholiman yang paling besar?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, janganlah jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah.”

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (QS. Nuh: 23)

Para ulama salaf mengatakan, “Berhala-berhala yang disebutkan dalam ayat tersebut dulunya adalah orang-orang sholih di kaum Nuh. Ketika mereka mati, kaum Nuh beri’tikaf di kubur mereka dan membuat patung-patung yang menyerupai mereka. Inilah awal penyembahan berhala.”

Ziarah bentuk kedua ini sejenis dengan ibadahnya orang Nashrani. Hal semacam ini tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhu dan para tabi’in. Mereka tidak pernah memanjatkan do’a di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti ini pun tidak pernah dilakukan oleh ulama salaf lainnya. Bahkan para ulama besar melarang seseorang berdiam diri di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdo’a di situ. Para ulama tersebut katakan bahwa amalan semacam ini sangat jauh dari tuntunan Islam. Para sahabat dan para tabi’in tidak pernah melakukan hal semacam ini. Yang mereka lakukan adalah mengucapkan salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penghuni kubur lainnya, selepas itu mereka pun pergi.

Kalau kita dapat menyaksikan, Abdullah bin ‘Umar ketika memasuki masjid Nabawi, beliau mengucapkan, “Semoga keselamatan kepadamu wahai Rasulullah. Semoga keselamatan kepadamu wahai Abu Bakr. Semoga keselamatan kepadamu wahai ayahku (Umar bin Khottob).” Selepas itu, Ibnu ‘Umar lekas pergi (tanpa berdiam lama di sisi kubur). Imam Malik dan ulama besar lainnya memiliki perkataan tegas mengenai hal ini. Abu Yusuf dan ulama lainnya juga memiliki perkataan demikian. Mereka berkata bahwa tidak boleh bagi seorang pun meminta kepada Allah dengan menggunakan perantaraan seorang nabi, malaikat atau lainnya. Kaum muslimin (yaitu para sahabat) dahulu pernah tertimpa kemarau dan kekeringan. Namun mereka berdo’a memohon pada Allah agar diturunkan hujan. Mereka pun berdoa atas musuh-musuhnya dan meminta agar diberi pertolongan melalui do’a orang-orang sholih (yang masih hidup). Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan diberi pertolongan dan diberi rizki berkat do’a orang-orang lemah di antara kalian, yaitu berkat do’a, shalat dan keikhlasan mereka.”

At Tauhid edisi VI/17
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
 

Selasa, 20 April 2010

kisah tentang bacaan Basmallah

Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama dan tidak mau berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya. Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."


Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."


Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan uang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.


Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."


Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan uang itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan uang itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim

." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibril A.S. untuk mengembalikan uang dan menyerahkan uang itu kepada suaminya kembali.

Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.


dan masih banyak lg keutamaan memulai sesuatu dengan basmallah karena jk kita memulai sesuatu dengan basmallah maka itu bernilai ibadah buat kita^^

Senin, 19 April 2010

Menuntut 'ilmu dengan Benar

Imam Asy-Syatibi rahimahullah di Mukadimah ke dua belas dari kitab Al Muwafaqot menyebutkan cara terbaik untuk meraih ilmu syar’I adalah mengambilnya langsung dari dari ahlinya yang menguasai ilmu tersebut.

Ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu itu dulunya tersimpan di dada-dada para pengembannya, kemudian berpindah ke kitab-kitab lalu kuncinya ada pada para ahlinya”.


Asy-Syatibi berkata, “Ungkapan ini menunjukkan untuk mendapatkan ilmu harus mengambilnya dari ulama-ulama yang menguasainya, mereka adalah kunci-kuncinya tanpa diragukan lagi”.


Kemudian beliau melanjutkan, “Apabila telah tetap bahwasanya harus mengambil ilmu dari ahlinya yang menguasainya. Maka untuk menempuhnya ada dua cara :


Pertama : Musyafahah (mengambil langsung dari lisannya, dan ini adalah jalan yang paling bermanfaat).”


Yaitu penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya dengan benar, ikhlas dan fokus kepada ilmu. alangkah besarnya berkah dan rahmah duduk di majelis ilmu seperti ini.


Seringkali seorang penuntut ilmu membaca sebuah kitab, ia menghapalnya, dan mengulang-ulangnya tapi ia tidak mengerti. Apabila disampaikan oleh guru ia tiba-tiba bisa paham dengan mudah, dan ia mendapatkan ilmu itu di hadapan gurunya.


Asy-Syathiby berkata, “Dan pemahaman ini kadang didapat dengan hal yang biasa, seperti penjelasan bagian yang meragukan yang tak terpikirkan oleh seorang penuntut ilmu, dan bisa juga di dapat dengan hal yang tidak biasanya, yaitu Allah menganugerahkan kepada penuntut ilmu pemahaman ketika ia bersimpuh di hadapan gurunya dengan tawadhu dan merasa membutuhkan apa yang diajarkan kepadanya. Ini adalah di antara faedah-faedah duduk di majelis para ulama, yaitu; ketika dibukakan pemahaman untuk penuntut ilmu di hadapan mereka apa yang tidak dibukakan untuknya ketika dia duduk belajar kepada yang lain”.


Jalan yang ke dua : untuk meraih ilmu, (masih bersama perkataan Abu Ishaq Asy-Syatiby rahimahullah), yaitu menelaah kitab-kitab yang dikarang para ulama. Cara ini juga bermanfaat dengan dua syarat :


Pertama : mampu memahami maksud-maksud ilmu yang sedang dipelajari, mengetahui istilah-istilah ahlinya, yang akan membantunya memahami kitab-kitab yang dipelajari. Dan modal inipun sejatinya di dapat dengan jalan yang pertama yaitu belajar langsung dari ulama atau ahlinya.


Kedua : hendaklah ia memilih kitab-kitab ulama terdahulu, karena mereka lebih mendalam ilmunya dari pada ulama muta-akhirin.


dan ini bukan berarti membaca dan mempelajari buku tidak berfaedah ..tentu sangat besar faedahnya ..namun belajar dari buku saja tidaklah cukup. bahkan tidak sedikit orang yang salah paham hanya karena mengandalkan berguru kepada buku. tetap saja seorang penuntut ilmu membutuhkan guru tempat bertanya tentang isi buku yang dia baca.


Maka barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu syar’i hendaklah mendatangilah ahlinya, yaitu ulama. Duduk dihadapan mereka dengan meluruskan niat dan mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Serta bertakwa kepada Allah zhohir dan batin, ketika sendiri maupun bersama orang lain, dalam perkataan dan perbuatan. Dan hendaklah senantiasa beruhasa menjaga keta’aan serta bersungguh-sungguh dalam menjauhi maksiat dan yang haram. Karena maksiat adalah kegelapan yang akan memadamkan cahaya ilmu.


Seperti perkataan Imam Malik kepada muridnya Imam Asy-Syafi’i, “Aku melihat bahwasanya Allah telah memberikan cahaya di hatimu. Jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat”.


Asy-Syafi’i berkata,


Aku mengadukan kepada waki’ buruknya hapalanku


Ia bimbing aku tinggalkan maksiat


Dan ia wasiatkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya


Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat.


Selamat menuntut ilmu saudaraku! Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalanmu ke surga… amin.

sumber : http://abuzubair.net/

Keutamaan Sholat Tepat Waktu

Awal shalat ditandai dengan berkumandangnya azan, tetapi pasar, kantor, terminal serta tempat-tempat lain masih saja hiruk pikuk dipenuhi umat muslim. Mereka tidak bergegas memenuhi panggilan azan ini, bahkan ada juga yang melalaikan sholat lima waktu. Menunaikan shalat tepat waktu berarti melatih diri untuk disiplin. Bila kita mulai dari disiplin shalat, maka kita akan terbiasa melakukan disiplin-displin dalam kegiatan lainnya. Shalat tepat waktu bisa menjadi ukuran disiplin bagi seorang muslim.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda : “…Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari).

Keutamaan shalat tepat waktu juga bisa menjadikan seseorang lembut hati dan dikaruniai kesehatan. Untuk Shalat Isya’ Nabi biasa mengerjakannya pada sebagian besar waktu malam. “Telah bersabda Rasulullah saw.”Sekiranya tidak memberatkan umatku, tentu aku suruh mereka mengundurkan isya hingga sepertiga atau seperdua malam.” (HR.Ahmad, Ibnu Majah,Tirmizi).

Pesan Khalifah Usman bin Affan ra:

“Orang-orang yang memelihara shalat lima waktu dan mengerjakannya tepat pada waktunya, maka Allah akan memuliakan orang itu dengan sembilan macam kemuliaan:

1. Dicintai Allah

2. Badannya senantiasa sehat

3. Dijaga oleh Malaikat

4. Diturunkan berkah untuk rumahnya

5. Mukanya akan kelihatan tanda orang yang shaleh

6. Allah akan melembutkan hatinya

7. Dapat melalui jembatan Shiratal Mustaqim layaknya seperti kilat

8. Akan diselamatkan dari api neraka

9. Allah akan menempatkannya ke dalam golongan orang-orang yang tidak takut dan tidak bersedih

Sumber:
http://www.taushiyah-online.com/index.php?page=taushiyah/detail_Tausyiah&idT=204

sebuah kisah tentang " Ayat Kursi "

Abu Hurairah r.a. pernah ditugaskan oleh Rasulullah S.A.W untuk menjaga gudang zakat di bulan Ramadhan. Tiba-tiba muncullah seseorang, lalu mencuri segenggam makanan. Namun kepintaran Hurairah memang patut dipuji, kemudian pencuri itu kemudian berhasil ditangkapnya.

"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," gertak Abu Hurairah.

Bukan main takutnya pencuri itu mendengar ancaman Abu Hurairah, hingga kemudian ia pun merengek-rengek : "Saya ini orang miskin, keluarga tanggungan saya banyak, sementara saya sangat memerlukan makanan."

Maka pencuri itu pun dilepaskan. Bukankah zakat itu pada akhirnya akan diberikan kepada fakir miskin? Hanya saja, cara memang keliru. Mestinya jangan keliru.

Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Maka bertanyalah beliau : "Apa yang dilakukan kepada tawananmu semalam, ya Abu Hurairah?"

Ia mengeluh, "Ya Rasulullah, bahwa ia orang miskin, keluarganya banyak dan sangat memerlukan makanan," jawab Abu Hurairah. Lalu diterangkan pula olehnya, bahwa ia kasihan kepada pencuri itu, lalu dilepaskannya.

"Bohong dia," kata Nabi : "Pada hala nanti malam ia akan datang lagi."

Kerana Rasulullah S.A.W berkata begitu, maka penjagaannya diperketat, dan kewaspadaan pun ditingkatkan. Dan benar juga, pencuri itu kembali lagi, lalu mengambil makanan seperti kemarin. Dan kali ini ia pun tertangkap.

"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," ancam Abu Hurairah, sama seperti kemarin.

Dan pencuri itu pun sekali lagi meminta ampun "Saya orang miskin, keluarga saya banyak. Saya berjanji esok tidak akan kembali lagi."

Kasihan juga rupanya Abu Hurairah mendengar keluhan orang itu, dan kali ini pun ia kembali dilepaskan.

Pada paginya, kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W, dan beliau pun bertanya seperti kelmarin. Dan setelah mendapat jawapan yang sama, sekali lagi Rasulullah menegaskan : "Pencuri itu bohong, dan nanti malam ia akan kembali lagi."

Malam itu Abu Hurairah berjaga-jaga dengan kewaspadaan dan kepintaran penuh. Mata, telinga dan perasaannya dipasang baik-baik. Diperhatikannya dengan teliti setiap gerak-geri disekelilingnya sudah dua kali ia dibohongi oleh pencuri. Jika pencuri itu benar-benar datang seperti diperkatakan oleh Rasulullah dan ia berhasil menangkapnya, ia telah bertekad tidak akan melepaskannya sekali lagi. Hatinya sudah tidak sabar lagi menunggu-nunggu datangnya pencuri jahanam itu. Ia kesal. Kenapa pencuri kemarin itu dilepaskan begitu saja sebelum diseret ke hadapan Rasulullah S.A.W ? Kenapa mahu saja ia ditipu olehnya ? "Awas!" katanya dalam hati. "Kali ini tidak akan kuberikan ampun."

Malam semakin larut, jalanan sudah sepi, ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang datang menghampiri longgokan makanan yang dia jaga. "Nah, benar juga, ia datang lagi," katanya dalam hati. Dan tidak lama kemudian pencuri itu telah bertekuk lutut di hadapannya dengan wajah ketakutan. Diperhatikannya benar-benar wajah pencuri itu. Ada semacam kepura-puraan pada gerak-geriknya.

"Kali ini kau pastinya kuadukan kepada Rasulullah. Sudah dua kali kau berjanji tidak akan datang lagi ke mari, tapi ternyata kau kembali juga.

"Lepaskan saya" pencuri itu memohon.

Tapi, dari tangan Abu Hurairah yang menggenggam erat-erat dapat difahami, bahwa kali ini ia tidak akan dilepaskan lagi. Maka dengan rasa putus asa ahirnya pencuri itu berkata : "Lepaskan saya, akan saya ajari tuan beberapa kalimat yang sangat berguna."

"Kalimat-kalimat apakah itu?" Tanya Abu Hurairah dengan rasa ingin tahu. "Bila tuan hendak tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Maka tuan akan selalu dipelihara oleh Allah, dan tidak akan ada syaitan yang berani mendekati tuan sampai pagi."

Maka pencuri itu pun dilepaskan oleh Abu Hurairah. Agaknya naluri keilmuannya lebih menguasai jiwanya sebagai penjaga gudang.

Dan keesokan harinya, ia kembali menghadap Rasulullah S.A.W untuk melaporkan pengalamannya yang luar biasa tadi malam. Ada seorang pencuri yang mengajarinya kegunaan ayat Kursi.

"Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?" tanya Rasul sebelum Abu Hurairah sempat menceritakan segalanya.

"Ia mengajariku beberapa kalimat yang katanya sangat berguna, lalu ia saya lepaskan," jawab Abu Hurairah.

"Kalimat apakah itu?" tanya Nabi.

Katanya "Kalau kamu tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Jika engkau membaca itu, maka engkau akan selalu dijaga oleh Allah, dan tidak akan didekati syaitan hingga pagi hari."

Menanggapi cerita Abu Hurairah, Nabi S.A.W berkata, "Pencuri itu telah berkata benar, sekalipun sebenarnya ia tetap pendusta." Kemudian Nabi S.A.W bertanya pula : "Tahukah kamu, siapa sebenarnya pencuri yang bertemu denganmu tiap malam itu?"

"Entahlah." Jawab Abu Hurairah.

"Itulah syaitan."

ISLAM agama kasih sayang

Ketika perang Qadisiyyah meletus, Khalifah ‘Umar bin Khattab menulis surat kepada panglimanya, Sa‘ad bin Abi Waqqas, supaya menaklukkan Hilwan, sebuah propinsi di Irak. Maka dikirimlah 300 personel kavaleri di bawah komando Nadhlah bin Mu‘awiyah al-Ansari. Hari itu, setelah dengan mudah menguasai seluruh propinsi, mereka menyaksikan suatu kejadian luar biasa. Saat itu masuk waktu maghrib dan Nadhlah pun naik ke sebuah tempat yang agak tinggi di lereng bukit untuk mengumandangkan azan. Anehnya, setiapkali Nadhlah selesai mengumandangkan kalimat azannya, spontan terdengar suara seseorang menjawabnya. “Allahu akbar!” laung Nadhlah, “Kabbarta kabiran, ya Nadhlah!” sahut orang itu. “Asyhadu alla ilaha illa Allah” dijawab dengan “Kalimatul ikhlas, ya Nadhlah!”. Lalu ketika dilaungkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, suara misterius itu menyahut, “Huwa ad-dinu, wa huwa alladzi basysyarana bihi ‘Isa ibnu Maryam ‘alayhima as-salam, wa ‘ala ra’si ummatihi taqumu as-sa‘ah!” Nadhlah menyambung azannya, “Hayya ‘ala ash-shalah!” lalu dijawabnya, “Thuba liman masya ilayha wa waazhaba ‘alayha!”, sedangkan “Hayya ‘ala al-falah!” dijawab dengan “Qad aflaha man ajaaba Muhammadan shallallahu ‘alayhi wa sallam, wa huwa al-baqa’ li ummatihi”. Dan laungan “La ilaha illa Allah” disambut dengan “Akhlashta al-ikhlash, ya Nadhlah, faharrama Allah jasadaka ‘ala an-naar!”
Selesai azan, Nadhlah yang tentu saja tidak gentar, meskipun cukup heran, lantas berseru: “Siapakah engkau, hai orang yang dikasihi Allah!? Apakah engkau Malaikat, jin penghuni di sini, atau seorang hamba Allah (dari golongan manusia)? Engkau telah memperdengarkan pada kami suaramu, maka tunjukkanlah pada kami dirimu! karena kami ini datang atas perintah Allah dan Rasulullah saw. dan atas instruksi Umar bin Khattab!” Lalu tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti gempa bumi kemudian bukit itu terbelah, dan dari situ muncul seorang berambut dan berjenggot serba putih. Setelah memberi salam, orang misterius tersebut memperkenalkan dirinya: “Saya Zurayb bin Bartsamla, orang yang disuruh tinggal di bukit ini oleh hamba yang saleh ‘Isa bin Maryam alayhima as-salam dan didoakan oleh beliau dapat berumur panjang untuk menunggu turunnya beliau dari langit, dimana beliau akan memusnahkan babi, menghancurkan salib dan berlepas diri dari agama kaum Nasrani (yatabarra’ mimma nahalathu an-nashara).”
Kisah sejarah ini diriwiyatkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi dalam kitabnya, al-Futuhat al-Makkiyyah, bab 36 (fi ma‘rifat al-Isawiyyin wa aqthabihim wa ushulihim). Lalu apa relevansi kisah tersebut? Menurut Ibnu Arabi, berdasarkan riwayat ini jelas sekali bahwa pengikut Nabi Isa yang murni tidak hanya mengimani kenabian Muhammad saw. tapi juga beribadah menurut syari‘atnya. Ini karena dengan kedatangan sang Nabi terakhir, syari’at agama-agama sebelumnya otomatis tidak berlaku lagi. Fa inna syari‘ata Muhammad saw. naasikhah!, tegas Ibnu Arabi, seraya mengutip hadis Rasulullah,
“Law kana Musa hayyan ma wasi‘ahu illa an yattabi‘ani).”
“Seandainya Nabi Musa hidup saat ini, maka beliau pun tidak dapat tidak mesti mengikutiku”
Di sini nampak cukup jelas sikap dan posisi Ibnu Arabi terhadap agama pra-Islam.
Ironisnya, sejak beberapa dekade yang lalu hingga sekarang, tokoh Sufi yang berasal dari Andalusia ini oleh sementara ‘kalangan’ acapkali ‘diklaim’ sebagai pelopor gagasan Islam inklusif. Nama beliau kerap ‘dicatut’ untuk menjustifikasi ide pluralisme agama. Tidak hanya itu, Syaikh tasawuf ini bahkan ‘dijadikan bemper’ untuk melegitimasi asumsi para penganut ‘agama perennial’ (religio perennis) bahwa dalam aspek esoteris dan pada dataran transenden, semua agama adalah sama, karena semuanya sama benarnya, sama sumbernya (Tuhan), dan sama misinya (pesan moral, perdamaian, dsb).
Dengan kata lain, seperti diungkapkan oleh Nurcholish Madjid (dalam kata pengantarnya untuk buku Tiga Agama Satu Tuhan, hal. xix), “Setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama.” Sebagaimana kita ketahui, pemahaman semacam ini dipopulerkan oleh F. Schuon, S.H. Nasr, W.C. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka yang kini nampak mulai mendapat tempat di Indonesia. Untuk mendukung klaimnya, biasanya ‘kalangan’ ini mengutip tiga bait puisi Ibn Arabi dalam karya kontroversialnya, Tarjuman al-Asywaq, yang berbunyi: “Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemanapun langkahnya; demikianlah agama dan keimananku.”
Seolah membenarkan asumsinya sendiri (self-fulfilling prophecy), Nasr menyimpulkan bahwa disinilah Ibnu Arabi “came to realize that the divinely revealed paths lead to the same summit” (Lihat: Three Muslim Sages [Delmar, New York: Caravan Books, 1964], hlm.118).
Sekilas memang nampak meyakinkan. Akan tetapi sebenarnya kaum transendentalis [sengaja?] tidak mengemukakan—kalau bukan justru menyembunyikan—fakta bahwa Ibnu Arabi telah menjelaskan maksud semua ungkapannya dalam syarah yang ditulisnya sendiri, yaitu Dzakha’ir al-A‘laq syarh Tarjuman al-Asywaq (ed.Dr.M.‘Alamuddin asy-Syaqiri, Cairo: Ein for Human and Social Studies, 1995, hlm.245-6). Di situ dinyatakan bahwa yang beliau maksudkan dengan ‘agama cinta’ adalah agama Nabi Muhammad saw., merujuk kepada firman Allah dalam al-Quran Ali Imran:31
“Katakanlah [hai Muhammad!], kalau kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku!—niscaya Allah akan mencintai kalian.”
Dan memang dalam kitab Futuhat-nya (bab 178, fi Maqam al-Mahabbah), Ibn Arabi dengan gamblang menerangkan apa yang beliau fahami tentang cinta dalam ayat tersebut. Berdasarkan objeknya, terdapat empat jenis cinta, kata beliau: (1) cinta kepada Tuhan (hubb ilahi); (2) cinta spiritual (hubb ruhani); (3) cinta alami (hubb thabi‘i); dan terakhir (4) cinta material (hubb ‘unsuri).
Setelah menguraikan tipologi cinta tersebut, Ibn Arabi dengan tegas menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syari‘at dan sunnah Rasul-Nya saw (al-ittiba‘ li-rasulihi saw. fima syara‘a). Jadi, ‘agama cinta’ yang beliau maksudkan adalah Islam, yaitu agama syari‘at dan sunnah Nabi Muhammad saw., dan bukan ‘la religion du coeur’ versi Schuon dan para pengikutnya itu.
Selain bait puisi di atas, kaum Transendentalis juga giat mencari pernyataan-pernyataan Ibn Arabi yang dapat di‘plintir’ to serve their own purposes. Ini biasanya disertai dengan tafsiran seenaknya yang sesungguhnya merupakan ekspresi ke‘sok tahu’an belaka dan murni reka-reka (conjecture) , sebagaimana terungkap dalam kalimat “perhaps Ibn Arabi would also accept”, “may be that”, “Ibn Arabi might reply” dsb. (Lihat Chittick, “A Religious Approach to Religious Diversity” dalam buku Religion of the Heart: Essays presented to Frithjof Schuon on his eightieth Birthday, ed. S.H. Nasr dan W. Stoddart, Washington, D.C.: Foundation for Traditional Studies, 1991).
Lebih parah lagi—dan ini yang perlu diwaspadai dan dikritisi—adalah praktek menggunting dan membuang bagian dari teks yang tidak mendukung asumsi mereka. Sebagai contoh, ketika mengutip sebuah paragraf dari Futuhat (bab) yang mengungkapkan pendapat Ibnu Arabi mengenai status agama-agama lain dalam hubungannya dengan Islam, Chittick tidak memuatnya secara utuh.
“All the revealed religions (shara’i‘) are lights. Among these religions, the revealed religion of Muhammad is like the light of the sun among the lights of the stars. When the sun appears, the lights of the stars are hidden, and their lights are included in the light of the sun. Their being hidden is like the abrogation of the other revealed religions that takes place through Muhammad’s revealed religion. Nevertheless, they do in fact exist, just as the existence of the light of the stars is actualized. This explains why we have been required in our all-inclusive religion to have faith in the truth of all the messengers and all the revealed religions. They are not rendered null (batil) by abrogation—that is the opinion of the ignorant.” (Lihat: Imaginal Worlds: Ibn Arabi and the Problem of Religious Diversity, New York: State University of New York Press, 1994, hlm.125).
Dengan [sengaja?] berhenti di situ, Chittick memberi kesan seolah-olah Ibnu Arabi menolak pendapat mayoritas kaum Muslimin bahwa semua agama samawi pra-Islam dengan sendirinya terabrogasi dengan datangnya Islam. Padahal maksud pernyataan Ibn Arabi adalah semua agama dan kitab suci yang dibawa oleh para rasul pada zaman dahulu harus diakui kebenarannya dalam konteks sejarah masing-masing—yakni sebelum Nabi Muhammad saw. muncul. Dan ini merupakan bagian dari rukun iman. Akan tetapi tidak berarti bahwa validitas tersebut berkelanjutan setelah kedatangan Rasulullah saw. atau bahkan sampai sekarang. “Nabi Isa pun, seandainya sekarang ini turun, niscaya tidak akan mengimami kita kecuali dengan mengikut sunnah kita [Ummat Muhammad], dan tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari‘at kita.” (Wa hadza ‘Isa idza nazala ma ya’ummuna illa minna, ay bi sunnatina, wa la yahkumu fina illa bi syar‘ina), demikian tegas Ibn Arabi (Lihat: Futuhat, bab 36).
Lebih jauh, dengan kutipan yang tidak komplit itu Chittick berusaha menggiring pada para pembaca agar meyakini bahwa Ibnu Arabi adalah seorang penganut pluralisme dan transendentalist seperti dirinya.
Sambungan pernyataan Ibnu Arabi yang dipotong oleh Chittick dalam kutipan tersebut di atas berbunyi: “Maka berbagai jalan [agama] semuanya bermuara pada jalan [agama] Nabi [Muhammad] saw. Karena itu, seandainya para rasul berada di zaman beliau, niscaya mereka mengikuti beliau sebagaimana syari‘at mereka ikut syari‘at beliau” (Fa raja‘at ath-thuruq kulluha nazhiratan ila thariq an-Nabiy shallallahu ‘alayhi wa sallama, fa law kanat ar-rusul fi zamanihi latabi‘uhu kama tabi‘at syara’i‘uhum syar‘ahu).
Bagaimana dengan ayat yang mengatakan bahwa Allah telah menciptakan syari‘at dan jalan untuk masing-masing kalian (al-Ma’idah:48)
“Likullin ja‘alna minkum syir‘atan wa minhajan”.
Menurut Ibnu Arabi, kata ganti orang kedua dalam bentuk jamak (“kum”) dalam konteks ayat tersebut merujuk kepada para Nabi, bukan umat mereka. Sebab jika ia ditujukan kepada umat mereka, niscaya Allah tidak mengutus lebih dari seorang rasul untuk suatu umat. Dan jika kata “kalian” disitu difahami sekaligus untuk para rasul serta umat mereka, maka kita telah menta’wilkannya secara gegabah. Jadi maksud ayat tersebut, menurut Ibnu Arabi, bukan membenarkan semua jalan menuju Tuhan, atau menyamakan status semua agama. Sebaliknya, terdapat garis demarkasi yang jelas antara hak dan batil, iman dan kufur, tawhid dan syirik, dst. Kalau tidak, lanjut Ibnu Arabi, niscaya Nabi saw. tidak akan berdakwah mengajak orang masuk Islam, niscaya orang yang pindah agama (yartadid ‘an dinihi) tak disebut kafir (2:217) dan niscaya tidak keluar perintah membunuh orang yang murtad (hadits: “man baddala dinahu fa-qtuluhu”).
Oleh sebab itu, Ibnu Arabi menambahkan, orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam tidak dikatakan murtad, karena ajaran murni agama mereka memang mengharuskan beriman kepada dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. (Selengkapnya dapat dilihat di Futuhat, bab 495, fi Ma‘rifati hal quthb kana manziluhu “wa man yartadid minkum ‘an dinihi fayamut wa huwa kafir”).

Minggu, 18 April 2010

Ruhiyah Takwa

Allah menciptakan makhluk bermacam, diantaranya malaikat, iblis, manusia, dan jin.

Malaikat (Bahasa Arab: ملاءكة)(baca: malaa-ikah) adalah makhluk yang memiliki kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah. Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malak (ملك) yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan Ar-Rasul. Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nuur), berdasarkan salah satu hadist Muhammad, “Malaikat telah diciptakan dari cahaya.” [HR. Muslim]


Iblis sendiri diciptakan dari api yang kufu kepada Allah, yang memilikui usia panjang. Allah memanjangankan usia iblis hingga hari kiamat. Sepanjang hidupnya, dia akan menggoda manusia untuk jauh dari jalan Allah. Iblis dan keturunannya menggoda jin dan manusia. Jin dan manusia yang telah berhasil digoda oleh iblis akan memiliki sifat setan. Sehingga setan ada yang berasal dari golongan jin dan manusia (QS. An-Nass)


Golongan Manusia dan jin ada yang taat dan ada yang kafir. Jin juga seperti manusia mengalami kematian walaupun memiliki usia yang lebih panjang dari manusia. Sementara "hantu", genduruwo, pocong, tuyul, dan jenis-jenis lainnya merupakan kerjaan dari jin yang bersifat setan atau dedengkotnya setan, iblis.


Manusia terdiri dari dua unsur yakni jasad dan ruhiyah. tidak akan dikatakan manusia jika hanya memiliki salah satu dari keduanya. Manusia yang tidak memiliki ruhiyah dan hanya memiliki jasad akan disebut mayat atau jasad. Sedangkan manusia yang hanya memilik ruhiyah tanpa jasad disebut arwah.


Memenuhi kebuituhan jasad dan ruhiyah sama pentingnya. Setiap apa yang kita lakukan, yang kita baca, yang kira makan, bahkan yang kita rencakan akan mempengaruhi ruhiyah kita. Kita harus menjaga kondisi kedua elemen terebut. Bisa berdosa seseorang jika tidak mengatur makanannya sehingga dengan hal itu dia menjadi sakit. Sementara menjaga ruhiyah merupakan kewajiban setiap Muslim dan menjadi sarana untuk penguatan jama'ah, sehingga kita harus melakukan hal-hal berikut:


1. Ibadah kepada Allah dengan niat ikhlas. Niat ikhlas ini ditandai karena ada tujuan dari setiao aktivitas kita, yaitu lillahita'ala. Islam menset sehingga perkara-perkada mubah yang kita lakukan menjadi nilai ibadah kepada Allah sehingga tidak terjadi kekosongan ruhiyah.


2. Selalu berhubungan dengan Allah. (penjelasannya Insya Allah paham)


3. Merasa selalu berada dalam pengawasan Allah


4. bersegera kembali kepada Allah. Jikalau kita melakukan dosa sekecil apapun, harus bersegara kembali kepada Allah jangan dibiarkan berlama-lama, hingga berhari-hari bahkan berbulan-bulan.


5. .... ga ngerti tadi apa yang dibilang, jadi ga sempat nyatat...


Dengan semua hal terebut, Insya Allah kita akan mendaptkan ruhiyah takwa. Dengan ruhiyah takwa, kita akan mendapatkan beberapa hal:

1. ...ga ngerti (lupa nyatat)..slidenya bahasa Arab seh..jadi mau liat slidenya juga tetap aja ga ngerti.hehehe..

2. Dapat memikul beban dakwah


3. merasakan manisnya keimanan. tugas berat akan dirasakan sebgai sesuatu hal yang indah. Sayyid Qutb ketika hendak digantung oleh penguasa di zamannya karena menentang anggapan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Dan apa yang dikatakn oleh Sayyid Qutb? Apapun yang dilakukan musuh-musuh Allah kepadaku, sungguh taman-taman surga berada dibalik dadaku. Jika saya dihukum mati maka akan mempercepat pertemuanku dengan Allah. Jikalau saya dibuang ketempat pengasingan, maka sayapun akan memiliki tempat berdakwah yang baru. (saya ga hapal persis tadi yang dibilang Ust. Asep, tapi kurang lebih begitu maknanya).


4. zuhud dari dunia. maknanya zuhud tersebut berarti besar kecilnya dunia tidak akan melalaikannya dari dunia.


5. ringan dan mudah dalam menghadapi kesulitan dan ujian (jadi ingat film 3idiot, All izz well.. :-D )


Sementara itu, jika kiota tidak menjaga ruhiyah kita, akan menyebabkan keringkihan ruhiyah, mudah terjangkit virus, bahkan hati menjadi keras bahkan mati.

Selasa, 13 April 2010

Ummu Sulaim, si Cerdas yang Dijamin Surga

Ummu Sulaim adalah seorang wanita keturunan bangsawan dari kabilah Anshar suku Khazraj memiliki sifat keibuan dan berwajah manis menawan. Selain itu ia juga berotak cerdas penuh kehati-hatian dalam bersikap, dewasa dan berakhlak mulia, sehingga dengan sifat-sifatnya yang istimewa itulah pamannya yang bernama Malik bin Nadhar melirik dan mempersuntingnya. Rumaisha Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Malik adalah satu dari wanita saliha yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah.

Pada saat Rasululllah menyerukan dakwah menuju tauhid, tanpa keraguan lagi Ummu Sulaim langsung memeluk agama Islam, dan tidak peduli akan gangguan dan rintangan yang kelak akan dihadapinya dari masyarakat jahili paganis.


Namun suaminya, Malik bin Nadhir sangat marah saat mengetahui istrinya telah masuk Islam. Dengan dada gemuruh karena emosi, ia berkata pada Ummu Sulaim: â€Å“Engkau kini telah terperangkap dalam kemurtadan!â€


â€Å“Saya tidak murtad. Justru saya kini telah beriman,†jawab Ummu Sulaim dengan mantap. Dan kesungguhan Ummu Sulaim memeluk agama Allah tidak hanya sampai di situ. Ia juga tanpa bosan berusaha melatih anaknya, Anas, yang masih kecil untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.


Melihat kesungguhan istrinya serta pendiriannya yang tak mungkin tergoyahkan membuat Malik bin Nadhir bosan dan tak mampu mengendalikan amarahnya. Hingga ia kemudian bertekad untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali sampai istrinya mau kembali kepada agama nenek moyang mereka. Ia pun pergi dengan wajah suram. Sayangnya, di tengah jalan ia bertemu dengan musuhnya, kemudian ia dibunuh..


Saat mendengar kabar kematian suaminya dengan ketabahan yang mengagumkan ia berkata, â€Å“Saya akan tetap menyusui Anas sampai ia tak mau menyusu lagi, dan sekali-kali saya tak ingin menikah lagi sampai Anas menyuruhku.â€


Setelah Anas agak besar, Ummu Sulaim dengan malu-malu mendatangi Rasulullah dan meminta agar beliau bersedia menerima Anas sebagai pembantunya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima Anas dengan rasa gembira. Dan dari semua keputusannya itu, Ummu Sualim kemudian banyak dibicarakan orang dengan rasa kagum.


Dan seorang bangsawan bernama Abu Thalhah tak luput memperhatikan hal itu. Dengan rasa cinta dan kagum yang tak dapat disembunyikan tanpa banyak pertimbangan ia langsung melangkahkan kakinya ke rumah Ummu Sulaim untuk melamarnya dan menawarkan mahar yang mahal. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,


â€Å“Tidak selayaknya saya menikah dengan seorang musyrik, ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa sesembahanmu selama ini hanyalah sebuah patung yang dipahat oleh keluarga fulan. Dan apabila engkau mau menyulutnya api niscaya akan membakar dan menghanguskan patung-patung itu.â€


Perkataan Ummu Sulaim amat telak menghantam dadanya. Abu Thalhah tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Namun itu semua merupakan realita yang harus ia terima. Abu Thalhah bukanlah orang yang cepat putus asa. Dikarenakan cintanya yang tulus dan mendalam terhadap Ummu Sulaim, di lain kesempatan ia datang lagi menjumpai ibunda Anas dan mengiming-iming mahar yang lebih wah serta kehidupan kelas atas.


Sekali lagi, Ummu Sulaim muslimah yag cerdik dan pintar ini tetap teguh dengan keimanannya. Sedikit pun ia tidak tergoda oleh kenikmatan dunia yag dijanjikan oleh Abu Thalhah. Baginya kenikmatan Islam akan lebih langgeng daripada seluruh kenikmatan dunia. Masih dengan penolakanya yang halus ia menjawab, â€Å“Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?â€


â€Å“Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan,†kata Abu Thalhah. â€Å“Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam,†tukas Ummu Sualim tandas.


â€Å“Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?†Tanya Abu Thalhah. â€Å“tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri,†tegas Ummu Sulaim.


Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berseru, â€Å“Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya.â€


Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hinnga tanpa terasa di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, â€Å“Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya.â€


Ummu Sulaim tersenyum haru dan berpaling kepada anaknya Ana, â€Å“Bangunlah wahai Anas.â€


Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, â€Å“Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.†Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.


Abu Thalhah sendiri adalah seorang konglomerat nomor satu dari kabilah Anshar. Dan harta yang paling dia cintai yaitu tanah perkebunan â€Å“Bairuhaâ€. Tanah perkebunan itu letaknya persis menghadap masjid. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah minum air segar yang ada di lokasi itu, sampai kemudian turun ayat yang berbunyi:


â€Å“Sekali-kali belum sampai pada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.†(Ali Imran:92)


Mendengar ayat ini, kontan Abu Thalhah menghadap Rasulullah. Setelah membacakan ayat tadi Abu Thalhah melanjutkan, â€Å“Dan sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah tanah perkebunan Bairuha. Saat ini tanah itu saya sedekahkan untuk Allah dengan harapan akan mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah kelak. Maka pergunakanlah sekehendak Anda, wahai Rasulullah.â€


Dan bersabdalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, â€Å“Bakh, bakh itu adalah harta yang menguntungkan dan saya telah mendengar perkataanmu tentang harta itu dan saya sekarang berpendapat sebaiknya engkau bagi-bagikan tanah itu untuk keluarga kalian.â€


Abu Thalhah pun menuruti perintah Rasululah dan membagi-bagikan tanah itu kepada sanak familinya dan anak keturunan pamannya. Tak berapa lama Alah memuliakan seorang anak laki-laki kepada pasangan berbahagia itu dan diberi nama Abu Umair. Suatu kali burung kesayangan Abu Umair mati sehingga Abu Umair menangis dengan sedih. Saat itu lewatlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya. Melihat kesedihan Abu Umair, Rasulullah segera menghibur dan bertanya, â€Å“Wahai Abu Umair apa gerangan yang diperbuat oleh burung kecil?â€


Namun takdir Allah memang tak mampu diduga. Allah subhanahu wa ta̢۪ala kembali ingin menguji kesabaran pasangan sabar ini. Tiba-tiba saja, bocah mungil mereka Abu Umair jatuh sakit sehingga ayah dan ibunya dibuat cemas dan repot. Padahal ia adalah putra kesayangan Abu Thalhah. Jika ia pulang dari pasar, yang pertama kali ditanyakan adalah kesehatan dan keadaan putranya dan ia belum mereasa tenang bila belum melihatnya. Tepat pada waktu sholat, Abu Thalhah pergi ke masjid. Tak lama setelah kepergiannya, putranya Abu Umair menghembuskan nafas terakhir.


Ummu Sulaim memang seorang ibu mukminah yang sabar. Ia menerima peristiwa itu dengan sabar dan tenang. Ummu Sulaim lantas menidurkan putranya di atas kasur dan berujar berulang-ulang, â€Å“Innaa lillahi wa inna ilaihi rrji’un.†Dengan suara berbisik ia berkata kepada sanak keluarganya, â€Å“Jangan sekali-kali kalian memberitahukan perihal putranya pada Abu Thalhah sampai aku sendiri yang memberitahunya.â€


Sekembalinya Abu Thalhah, alhamdulillah, air mata kesayangan Ummu Sulaim telah mongering. Ia menyambut kedatangan suaminya dan siap menjawab pertanyaannya.


â€Å“Bagaimana keadaan putraku sekarang?â€


â€Å“Dia lebih tenang dari biasanya.†Jawab Ummu Sulaim dengan wajar.


Abu Thalhah merasa begitu letih hingga tak ada keinginan menengok putranya. Namun hatinya turut berbunga-bunga mengira putranya dalam keadaan sehat wal afiat. Ummu Sulaim pun menjamu suaminya dengan hidangan yang istimewa dan berdandan serta berhias dengan wangi-wangian, membuat Abu Thalhah tertarik dan mengajaknya tidur bersama.


Setelah suaminya terlelap, Ummu Sulaim memuji kepada Allah karena berhasil menentramkan suaminya perihal putranya, karena ia menyadari Abu Thalhah telah mengalami keletihan seharian, sehingga ia amembiarkan suaminya tertidur pulas.


Menjelang subuh, baru Ummu Sulaim berbicara pada suaminya, seraya bertanya, â€Å“Wahai Abu Thalhah apa pendapatmu bila ada sekelompok orang meminjamkan barang kepada tetangganya lantas ia meminta kembali haknya. Pantaskan jika si peminjam enggan mengembalikannya?â€


â€Å“Tidak,†jawab Abu Thalhah.


â€Å“Bagaimana jika si peminjam enggan mengembalikannya setelah menggunakannya?†â€Å“Wah, mereka benar-benar tidak waras,†Abu Thalhah menukas.


â€Å“Demikian pula putramu. Allah meminjamkannya pada kita dan pemiliknya telah mengambilnya kembali. Relakanlah ia,†kata Ummu Sulaim dengan tenang. Pada mulanya Abu Thalhah marah dan membentak, â€Å“Kenapa baru sekarang kau beritahu, dan membiarkan aku hingga aku ternoda (berhadats karena berhubungan suami istri)?â€


Dengan rasa tabah Ummu Sulaim tak henti-henti mengingatkan suaminya hingga ia kembali istirja dan memuji Allah dengan hati yang tenang.


Pagi-pagi buta sebelum cahaya matahari kelihatan penuh, Abu Thalhah menjumpai Rasulullah shollallahu ’alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, â€Å“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan barakah pada malam pengantin kalian berdua.â€


Benar saja Ummu Sulaim lantas mengandung lagi dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Thalhah oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan subhanallah barakahnya ternyata tak hanya sampai di situ. Abdullah kelak di kemudian hari memiliki tujuh orang putra yang semuanya hafizhul Qur’an. Keutamaan Ummu Sulaim tidak hanya itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga pernah menurunkan ayat untuk pasangan suami istri itu dikarenakan suatu peristiwa. Sampau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menggembirakannya dengan janji surga dalam sabdanya


â€Å“Aku memasuki surga dan aku mendengar jalannya seseorang. Lantas aku bertanya â€Å“Siapakah ini?†Penghuni surga spontan menjawab â€Å“Ini adalah Rumaisha binti Milhan, ibu Anas bin Malik.â€


Selamat untukmu Ibunda Anas!


Sumber: Elfata edisi 12/III/2003

Mukjizat Al-Qur'an Terungkap: Ada Kobaran Api di Dasar Laut

Subhanallah! Baru-baru ini muncul sebuah fenomena retakan di dasar lautan yang mengeluarkan lava, dan lava ini menyebabkan air mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat Celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa tingginya, ia tidak bisa membuat air laut menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah-luah, ia tidak bisa memadamkan api.

Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik ini. Firman-Nya: "Ada laut yang di dalam tanahnya ada api" (Qs. Ath-Thur 6).


Nabi SAW bersabda: "Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan."


Ulasan Hadits Nabi


Hadits ini sangat sesuai dg sumpah Allah SWT yang dilansir oleh Al-Qur’an pada permulaan Surah Ath-Thur, di mana Allah bersumpah (Maha Besar Allah yang tidak membutuhkan sumpah apapun demi lautan yang di dalam tanahnya ada api "al-bahrul masjur." Sumpahnya:


"Demi bukit, dan kitab yang ditulis; pada lembaran yang terbuka; dan demi Baitul Ma'mur; dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya." (Qs. Ath-Thur: 1-8)


Bangsa Arab, pada waktu diturunkannya Al-Qur’an tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yang di dalam tanahnya ada api ini. Karena bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna “sajara” sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi mereka, panas dan air adalah sesuatu yang bertentangan. Air mematikan panas sedangkan panas itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yang rusak salah satunya?


...tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat...


Persepsi demikian mendorong mereka untuk menisbatkan kejadian ini sebagai peristiwa di akhirat (bukan di dunia nyata). Apalagi didukung dengan firman Allah SWT: "Dan apabila lautan dipanaskan" (QS. At-Takwir 6).


Memang, ayat-ayat pada permulaan Surah At-Takwir mengisyaratkan peristiwa-peristiwa futuristik yang akan terjadi di akhirat kelak, namun sumpah Allah SWT dalam Surah Ath-Thur semuanya menggunakan sarana-sarana empirik yang benar-benar ada dan dapat ditemukan dalam hidup kita (di dunia).


Hal inilah yang mendorong sejumlah ahli tafsir untuk meneliti makna dan arti bahasa kata kerja “sajara” selain menyalakan sesuatu hingga membuatnya panas. Dan mereka ternyata menemukan makna dan arti lain dari kata "sajara," yaitu “mala'a” dan “kaffa” (memenuhi dan menahan). Mereka tentu saja sangat gembira dengan penemuan makna dan arti baru ini karena makna baru ini dapat memecahkan kemusykilan ini dengan pengertian baru bahwa Allah SWT telah memberikan anugerah kepada semua manusia dengan mengisi dan memenuhi bagian bumi yang rendah dengan air sambil menahannya agar tidak meluap secara berlebihan ke daratan.


Namun, hadits Rasulullah SAW yang sedang kita bahas ini secara singkat menegaskan bahwa: Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.


Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini. Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai 'gunung-gunung tengah samudera'.


Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut sebagian besar terdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar. Jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di dalam dasar samudera dan beberapa lautan. sedangkan kedalamannya mencapai 65 km. Kedalaman jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.


Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastis yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan "fenomena perluasan dasar laut dan samudera." Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan itupun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar samudera dan beberapa dasar laut.


...meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera....


Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.


Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.


Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan.


...terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi...


Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi. Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi.


Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda: "Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan."


Sebab fakta-fakta ini baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun terakhir.


Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah SAW menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, sekaligus membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan wahyu langit dan diberitahui oleh Allah Sang maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah yang menyatakan:


"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan” (QS. An-Najm 3-10)


Tidak seorang pun di muka bumi ini yang mengetahui fakta-fakta ini kecuali baru pada beberapa dekade terakhir. Sehingga lontaran fakta ini dalam hadis Rasulullah SAW benar-benar merupakan kemukjizatan dan saksi yang menegaskan kenabian Muhammad SAW dan kesempurnaan kerasulannya.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam

Kisah segelas susu

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar al-Shidiq kembali dari pasar. Di rumah, beliau melihat segelas susu murni di atas meja. Karena rasa haus akibat aktivitas yang melelahkan, beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikit pun tentang asal-usul segelas susu tersebut.

Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, ''Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal-muasal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya?'' Dengan rasa kaget, Abu Bakar bertanya, ''Memangnya susu ini dari mana?'' Pembantunya menjawab, ''Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang.


Suatu kali setelah saya ramal nasib seorang pelanggan, dia tidak sanggup membayar karena tidak punya uang, tapi dia berjanji suatu saat akan membayar. Tadi pagi saya bertemu di pasar dan dia memberikan susu itu sebagai bayaran untuk utang yang dulu belum sempat dia bayar.'' Mendengar itu, langsung Abu Bakar memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut dan mengoyang-goyangkan anak lidah agar muntah. Beliau berusaha untuk mengeluarkan susu tersebut dari perutnya, dan tidak ingin sedikit pun tersisa. Bahkan dalam riwayat itu disebutkan, beliau sampai pingsan karena berusaha memuntahkan seluruh susu yang telanjur beliau minum dan berkata, ''Walaupun saya harus mati karena mengeluarkan susu ini dari perut saya, saya rela.''


Banyak disebutkan dalam kisah para sahabat Nabi, para salafu al shalih sangat menjaga setiap makanan dan minuman sebelum masuk ke dalam perut. Ketika mereka sudah benar-benar yakin bahwa makanan tersebut halal seratus persen, barulah mereka berani memakannya, tapi kalau masih berbau syubhat apalagi haram mereka tidak mau memakannya, walaupun harus kelaparan. Para salafu al shalih sangat takut kepada hadis Nabi, ''Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, maka api neraka lebih pantas untuknya.'' Di samping itu, mereka sangat yakin bahwa makanan adalah sumber tenaga dan inspirasi untuk tubuh dan otak. Makanan yang halal akan membuat tubuh gampang untuk melaksanakan ibadah.


Kehati-hatian mereka juga untuk keluarga. Mereka tidak mau memberi makanan yang haram kepada keturunannya agar melahirkan sifat terpuji, karena yakin ketika keluarga diberi makanan yang haram, jangan diharapkan istri dan anak kita akan membawa kedamaian di tengah keluarga. Sang anak dan istri akan jauh dari sifat shalih dan shalihah. Istri-istri di zaman sahabat dan salaf al shalih selalu berpesan kepada suaminya sebelum berangkat kerja, ''Wahai suamiku, kami kuat menahan lapar, tapi tidak kuat terhadap api neraka, carilah rezeki yang halal untuk kami.''

sebuah refleksi dari kisah seekor tikus

Seekor tikus mengintip disebalik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan fikirnya? Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus.

Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan; "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!"


Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah."


Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus didalam rumah, sebuah perangkap tikus dirumah!" "Wah, aku menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"


Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. " Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa.


Jadi tikus itu kembalilah kerumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.


Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Didalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahawa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.


Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan orang yg sakit demam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan bahan untuk supnya itu.


Penyakit isterinya berlanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itupun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para tamu itu.


Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat para pelayat itu.


penting:

---------------

Apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu fikir itu tiada kaitan dengan anda, ingatlah bahwa apabila ada 'perangkap tikus' didalam rumah, seluruh 'ladang pertanian' ikut menanggung risikonya .


Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya.

RizQi ALLOH itu Luas

Al-kisah ada seorang imam besar yang taat dan ahli hikmah. Beliau sungguh ingin membuktikan kepada dirinya sendiri juga kepada seluruh umat manusia, bahwa Allah selalu memberikan rizki dimanapun kita berada.

Akhirnya pada suatu waktu pergilah ia ke hutan dengan tidak membawa bekal sedikitpun.Dia memasuki sebuah gua yang ada dalam hutan tersebut. Dia benar-benar mencari tempat yang jarang di jangkau manusia,ia berdiam diri di ujung gua tersebut...


Sungguh Allah Maha Maha Pengasih dan Penyayang...


Hingga suatu waktu, cuaca sangat buruk dan turunlah hujan yang sangat lebat dan angin yang kencang. Dan ternyata, sekelompok kafilah tengah melintas di hutan tersebut sehingga mereka tidak bisa meneruskan perjalanan. Akhirnya mereka istirahat dan tanpa sengaja mereka memasuki gua yang mana Imam Jahidi ada di dalamnya. Ketika mereka memasuki gua tersebut mereka tidak menyangka sebelumnya, bahwa ada orang yang lebih dulu masuk ke dalamnya. Akhirnya kafilah tersebut melihat seorang manusia yang sedang terdiam dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.


Dengan lantang pimpinan kafilah memerintahkan kepada anak buahnya untuk memberikan makanan kepadanya! tetapi sungguh membingungkan..., karena Imam Jahidi tidak bergerak sama sekali, dia hanya diam seribu bahasa. Melihat hal tersebut, salah seorang dari mereka berkata..,wahai sahabat, mungkin dia kedinginan..? sehingga tubuhnya begitu kaku seperti ini..? akhirnya salah seorang dari mereka memberikan mantelnya yang hangat untuk meyelimuti Imam Jahidi, sementara yang lain membuat tungku api untuk menghangatkan badannya.


Tetapi apa yang terjadi...? Ia tetap diam tak bergerak sedikitpun. Salah seorang dari mereka berkata kembali "mungkin ia terlalu lama menahan lapar sehingga giginya mengetat..! maka dibuatkanlah untuknya susu yang segar dengan buah-buahan yang segar pula. Tetapi semua itu tidak merubah keadaan.


Karena merasa kasihan, dua orang dari kafilah tersebut mengambil sebuah pisau dan sendok untuk membuka mulut Imam Jahidi..., namun sebelum mereka akan membuka dengan paksa mulutnya terbuka dan Imam Jahidi tertawa sehingga membuat kaget orang yang ada disekitarnya..."Apakah kamu gila...?"


Imam Jahidi menjawab dengan lantang "tidak" aku tidak gila..!Sungguh Allah Maha Luas Rizki-Nya.


subhanalloh,. sungguh sifat Ar-rohman-Nya Alloh diberikan didunia untuk semua orang baik orang beriman, orang kafir, munafik dll,. tp ingat sifat ar-rohim-Nya Alloh hanya diberikan untuk orang2 yang beriman kelak di akhirat^^

IMAN SEMUT VS IMAN MANUSIA

Di jaman Nabi Sulaiman terjadi suatu peristiwa, ketika Nabi Alloh Sulaiman melihat seekor semut melata diatas batu, beliau heran bagaimana semut ini hendak hidup diatas batu yg kering ditengah2 padang pasir yg tandus.

Nabi Sulaiman pun bertanya pd semut : “ wahai semut apakah engkau yakin ada makanan cukup untuk kamu??? “


Semut pun menjawab : “ rezeki di tangan Alloh, aku percaya rezeki di tangan Alloh, aku yakin diatas batu yg kering ditengah padang pasir yg tandus ini ada rezeki untuk ku”


Lantas Nabi Sulaiman pun bertanya: “ wahai semut berapa banyakah engkau makan?? Makanan apakah yg engkau sukai??? Dan berapa banyak engkau makan disetiap bulan? “


Jawab semut : “ aku makan hanya sekadar biji gandum dalam sebulan”


Nabi Sulaiman pun mencadangkan : “ kalau kamu makan hanya sebiji gandum dalam sebulan, kau tidak usah susah payah hidup diatas batu itu, aku bisa menolongmu “


Nabi Sulaiman pun mengambil satu wadah, beliau memasukan semut itu kedalam wadah tersebut, kemudian beliau mengambil sebiji gandum, kemudian beliau bubuhkan gandum tersebut dalam wadah itu kemudian menutupnya.


Kemudian beliau meninggalkan semut itu didalam wadah dengan sebiji gandum tersebut selama satu bulan. Takala genap satu bulan, Nabi Sulaiman melihat ternyata gandum sebiji itu hanya dimakan setengah saja oleh sang semut.


Lalu Nabi Sulaiman meneplak semut itu : “ kamu rupanya berbohong kepadaku, bulan lalu kau bilang kamu makan sebiji gandum dalam sebulan, ini sudah sebulan kamu hanya makan setengh saja.”


Jawab semut :” aku tidak berbohong, kalau aku ada diatas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum sebulan, karena makanan itu aku cari sendiri dan itu datangnya dari Alloh dan Alloh TIDAK PERNAH LUPA PADAKU”


Tetapi bila kamu masukan aku kedalam wadah yg tertutup, rezekiku bergantung padamu dan aku tidak percaya kepadamu, sebab itulh aku makan setengah saja supaya tahan dua bulan. AKU TAKUT KAMU LUPA.“


Itulah Iman semut,,.!!!!!


Lalu bagaimana dengan Iman manusia??????


Di zaman imam Suffian, ada seorang hamba Alloh yang kerjanya menggali kubur orang mati. Bila ada orang mati, mayat terpaksa ditanam, oleh karena itu perlu digali dulu. Tetapi yg ganjil mengenai hamba Alloh ini ialah dia tidak gali kubur untuk tanam mayat. Sebaliknya apabila orang mati sudah ditanam., waris sudah lama balik ke rumah dan Munkar Nakir sudah menanyai, barulah penggali ini datang ke kubur untuk menggali kembali.


Dia mau mencari tau tentang mayat setelah di interview oleh munkar nankir. Dia gali 1 kubur, 2 kubur, 3 kubur, 10 kubur, 50 kubur, 100 kubur. Setelah itu penggali itu pergi kepada imam Suffian dan bertanya kepadanya : “ ya imam, kenapa dari 100 kubur orang islam yg aku gali, dua saja mayat yg masih menghadap kiblat. Yg 98 lainya sudah beralih kebelakang??”

Jawab imam Suffian :” di akhir zaman hanya ada 2 dari 100 umat islam yg percaya rezeki itu ditangan Alloh. Dan 98 lainnya tidak percaya rezeki itu ditangan Alloh.”


Itulah sebabnya apabila umat islam tertekan SOGOKAN duit yg banyak, biasanya iman mereka akan beralih. Nyatalah Iman semut lebih kuat dari iman manusia.



JAZAKUMULLOH telah membacanya ^_^

SEMOGA BERMANFAAT,,!!!!!!!!

Bagaimana cara bersaudara??

Dua orang bersaudara bekerja bersama menggarap ladang milik keluarga mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah, dan memiliki keluarga yang cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana tidak menikah. Ketika musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata. Selalu begitu.

Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berpikir, "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit." Maka, demi si kakak, setiap malam, dia akan mengambil sekarung padi miliknya, dan dengan diam-diam, meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya. Sekarung itu ia anggap cukuplah untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.


Sementara itu, si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adiknya. Ia berpikir, "Tidak adil jika kami selalu membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan mampu merawatku kelak ketika tua. Sedangkan adikku, tak punya siapa-siapa, tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin. Ia berhak mendapatkan hasil lebih daripada aku."


Karena itu, setiap malam, secara diam-diam, ia pun mengambil sekarung padi dari lumbungnya, dan memasukkan ke lumbung mulik adik satu-satunya itu. Ia berharap, satu karung itu dapatlah mengurangi beban adiknya, kelak.


Begitulah, selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung keduanya tak pernah berubah jumlah. Sampai..., suatu malam, keduanya bertemu, ketika sedang memindahkan satu karung ke maring-masing lumbung saudaranya. Di saat itulah mereka sadar, dan saling menangis, berpelukan. Mereka tahu, dalam diam, ada cinta yang sangat dalam yang selama ini menjaga persaudaraan mereka. Ada harta, yang justru menjadi perekat cinta, bukan perusak. Demikianlah jika bersaudara.

Sholat Malam

Dari Abu Hurairah r.a "....Kekasihku Rasulullah telah berwasiat kepadaku agar aku tidak tidur sebelum solat witir." (HR Bukhari)

Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya;"Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam bersabda;

" Hai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si Fulan itu, dulu ia suka sekali bangun bersolat di waktu malam, tetapi kini meninggalkan bangun solat waktu malam itu." (Muttafaqun 'alaih)

Dari Aisyah r.a katanya; "Nabi sollallahu 'alaihi wasallam itu berdiri untuk bersolat malam, sehingga pecah-pecah kedua tapak kakinya. Saya berkata kepadanya;" Mengapa Tuan mengerjakan sedemikian ini, ya Rasulullah, padahal sudah diampunkan untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang dahulu dan yang kemudian?" Beliau sollallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda, "Tidakkah saya ini wajar menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur." (Muttafaqun 'alaih)


Dari Ibnu Mas'ud r.a katanya;" Ada seorang lelaki yang disebut-sebut di sisi Nabi sollallahu 'alaihi wasallam, iaitu bahawa orang tersebut tidur di waktu malam sampai ke pagi - yakni tidak bangun untuk bersolat malam, lalu beliau sollallahu 'alaihi wasallam bersabda;" orang itu sudah dikencingi syaitan dalam kedua-dua telinganya" atau beliau sollallahu 'alaihi wasallam bersabda;"di telinganya." (Muttafaqun 'alaih)


Dari Abu Hurairah r.a katanya;" Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam bersabda;"

Syaitan itu memberikan ikatan pada hujung kepala seseorang di antara engkau semua sebanyak tiga ikatan, jikalau ia tidur. Ia membuat ketentuan pada setiap ikatan itu dengan kata-kata yang berbunyi;" Engkau memperoleh malam panjang, maka tidurlah terus!" Jikalau orang itu bangun lalu berzikir kepada Allah ta'ala maka terurailah sebuah ikatan dari dirinya, selanjutnya jikalau dia terus berwudhu', lalu terurai pulalah ikatan satunya lagi dan seterusnya, jikalau ia bersolat, maka terurailah ikatan seluruhnya, sehingga berpagi-pagi ia telah menjadi bersemangat serta berhati gembira. Tetapi jikalau tidak sebagaimana yang tersebut di atas, maka ia berpagi-pagi menjadi orang yang berhati buruk serta pemalas." (Muttafaqun 'alaih).

Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash r.a bahawasanya Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam bersabda padanya;"


Solat yang paling dicintai Allah ialah solatnya Daud dan puasa yang paling dicintai Allah ialah puasanya Daud. Ia tidur separuh malam, bangun solat yang sepertiganya dan tidur seperenamnya, Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari. (Muttafaqun 'alaih)


Dari A'isyah r.a pula bahawasanya Nabi sollallahu 'alaihi wasallam itu tidur di permulaan malam dan bangun pada akhir malam lalu bersolat." (Muttafaqun 'alaih)


Solat Paling Afdhal Setelah Solat Fardhu


"Solat yang paling afdhal setelah solat wajib adalah qiyamullail (tahajjud)." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)



Waktu Mustajabnya Doa


Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam ; "Sesungguhnya dari sebahagian malam itu ada satu waktu yang tidak menyamai kebaikannya bagi seorang muslim untuk memohonkan sesuatu yang baik kepada Allah ta'ala, melainkan Allah pasti akan mengabulkannya. Demikian itu ada pada setiap malam." (HR Muslim)



Lebih Baik Dari Dunia dan Seisinya


Dua raka'at yang dilakukan oleh seorang hamba di tengah malam itu adalah lebih baik baginya daripada dunia ini serta seluruh isinya."

(HR Adam bin Abu Iyas)


Meningkatkan Darjat Di sisi Allah


“Dan pada sebahagian malam hari, sembahyang tahajudlah kamu sebagai satu ibadat tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat terpuji.” – (Surah al-Isra, ayat 79).


Dari Abu HUrairah r.a., Sabda Rasulullah lagi bermaksud: “Allah mengasihi seorang lelaki yang bangun tengah malam lalu dia mengerjakan sembahyang dan membangunkan isterinya untuk turut sama bersembahyang.

“Kalau isterinya enggan, beliau akan memercikkan air ke mukanya. Dan Allah mengasihi seorang wanita yang bangun tengah malam untuk mengerjakan sembahyang lalu dia membangunkan suaminya untuk turut yang sama. Kalau suaminya enggan, beliau akan memercikkan air ke mukanya.” (HR Abu Daud dengan isnad yang sahih)


Ibadah Ahli Syurga


Firman Allah lagi dalam surah as Sajdah, ayat ke-16 dan 17 bermaksud: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, bahkan mereka menafkahkan sebahagian daripada rezeki yang Kami berikan kepada mereka.


"Orang-orang yang bertaqwa itu sedikit sekali tidurnya di waktu malam. Di waktu menjelang fajar pagi, mereka itu berdoa memohonkan pengampunan dan dari sebahagian hartanya dijadikan hak yang diberikan pada yang meminta dan yang kekurangan." [Surah Az-Dzaariyaat: 17-19]


Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam ; "Hendaklah kamu semua menetapi solat malam, sebab yang demikian itu adalah perilaku orang-orang yang soleh sebelum kamu." (HR Tirmidzi)


Dari Abdullah bin Salam r.a bahawasanya Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam bersabda;"

Hai sekalian manusia, ratakanlah salam, berikanlah makanan, bersolatlah di waktu malam sedang para manusia sedang tidur, maka engkau semua akan dapat memasuki syurga dengan selamat." (HR Tirmidzi).


Keteladanan Salafussoleh


Ibnul Qayyim Al-Jauzy melakukan solat malam, dilanjutkan dengan solat Subuh dan kemudian dilanjutkan dengan solat dhuha, setelah itu barulah beliau beranjak melakukan aktiviti-aktiviti yang lain. Lalu beliau berkata,"jika hal ini tidak aku lakukan maka sungguh sangat berat."


Dalam riwayat Ibnu Ishaq dan Ahmad dari Jabir bin Abdullah RA ia menceritakan, "Kami berangkat bersama Rasulullah SAW pada perang Dzatur Riqaa'. Pada kesempatan itu tertawanlah seorang wanita musyrikin. Setelah Rasulullah SAW berangkat pulang, suami wanita itu yang sebelumnya tidak ada di rumah baru saja datang. Kemudian lelaki itu bersumpah tidak akan berhenti mencari sebelum dapat mengalirkan darah para sahabat Muhammad SAW. Lalu lelaki itu keluar mengikuti jejak perjalanan Rasulullah SAW. Pada sebuah lorong di suatu lembah Rasulullah SAW bersama para sahabat berhenti. Kemudian beliau bersabda, "Siapakah di antara kalian yang bersedia menjaga kita malam ini?" Jabir berkata, "Maka majulah seorang dari Muhajirin dan seorang lagi dari Anshar lalu keduanya menjawab, 'Kami siap untuk berjaga ya Rasulullah'. Nabi Muhammad SAW berpesan Jagalah kami di mulut lorong ini. Jabir menceritakan waktu itu, Rasulullah bersama para sahabat berhenti di lorong suatu lembah.


"Ketika kedua orang sahabat itu ke ke mulut lorong, sahabat Anshar berkata pada sahabat Muhajirin, `Pukul berapa engkau inginkan aku berjaga, apakah permulaan malam ataukah akhir malam?' Sahabat Muhajirin menjawab;"Jagalah kami di awal malam, kemudian sahabat Muhajirin itu berbaring tidur. Sedangkan sahabat Anshar melakukan shalat. Jabir berkata, datanglah lelaki musyrikin itu dan ketika mengenali sahabat Anshar, musyrikin itu mengetahui bahwa sahabat itu sedang hirasah. Kemudian orang itu memanahnya tepat mengenai diri Ansar tersebut, lalu sahabah Ansar itu mencabutnya kemudian berdiri tegak melanjutkan solatnya. Kemudian orang musrikin itu memanahnya lagi dan tepat mengenainya lagi, lalu sahabat itu mencabut kembali anak panah itukemudian berdiri tegak melanjutkan solatnya. Kemudian untuk ketiga kalinya orang itu memanah kembali sahabat Anshar tersebut dan tepat mengenai dirinya. Lalu dicabut pula anak panah itu kemudian ia rukuk dan sujud. Setelah itu ia membangunkan sahabat Muhajirin seraya berkata, 'Duduklah karena aku telah dilukai.' Jabir berkata, "Kemudian sahabat Muhajirin itu melompat mencari orang yang melukai sahabat Anshar itu. Ketika orang musyrikin itu melihat keduanya ia sadar bahwa dirinya telah diketahui maka ia pun melarikan diri. Ketika sahabat Muhajirin mengetahui darah yang melumuri sahabat Anshar, ia berkata, 'Subhanallah kenapa engkau tidak membangunkan aku dari tadi?' Sahabat Anshar.menjawab, Aku sedang membaca surah dan aku tidak ingin memutusnya. Namun, setelah orang itu berkali-kali memanahku barulah aku ruku' dan memberitahukan dirimu. Demi Allah SWT kalau bukan karena takut mengabaikan tugas penjagaan yang diperintahkan Rasulullah SAW kepadaku niscaya nafasku akan berhenti sebelum aku membatalkan solat."'



Bagaimana mudah utk bangun solat malam???


1. Makan malam yang sedikit sekadar alas perut supaya tidak lapar. Jika kita makan malam yang banyak ianya akan menyebabkan kita cepat mengantuk dan susah bangun dari tidur, sudah tentu kita akan terlebih tidur pula.


2. Jangan tinggalkan tidur qailulah di siang hari.


3. Mengetahui dan menginsafi benar-benar keutamaan solat malam dengan mentadabburi selalu ayat-ayat Qur’an dan hadis-hadis serta kisah-kisah salafussoleh berkenaan dengan bangun malam.


4. Meningkatkan rasa cinta kepada Allah, rasa cinta yang sebenar-benarnya. Istiqamah dalam beribadah di waktu malam itu merupakan anugerah yang Allah berikan kepada kekasih-kekasih-Nya. Bersihkanlah diri dan hati daripada unsur-unsur syirik baik yang nyata atau yang tersembunyi, dan peliharalah ibadah sebelumnya, sesungguhnya seseorang yang berat beban dosanya dari amalan yang dilakukan sebelum tidurnya itu pasti memberatkannya untuk bangkit berkhalwah dengan Allah yang Maha Suci di malam hari.


Wallahu'alam bissowab

air mata Rosululloh SAW


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “ bolehkah saya masuk??” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata fatimah yang membalikan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah, “ siapakah itu wahai anaku?”, “ tak taulah ayahku, orang baru pertama kali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu Rasululloh SAW menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah dari anaknya itu ingin dikenang. “ ketahuilah dialah yang menghapus kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan didunia, dialah malaikat maut” kata Rasululloh, fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rosululloh menanyakan kenapa jibril tidak ikut sama menyertainya.


Kemudian dipanggilah jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Alloh dan penghulu dunia ini. “ jibril, jelasakn apa hakku nanti dihadapan Alloh??” Tanya Rosululloh denagn suara yang sangat lemah. “ pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu”, kata jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rosululloh lega, matanya masih penuh kecemasan.


“ Engkau tidak senang mendengar kabar ini??” Tanya jibril lagi. “ kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” Tanya Rosululloh. “ jangan khawatir wahai rosul Alloh, aku pernah mendengar Alloh berfirman kepadaku : Ku haramkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata jibril.


Detik-detik semakin dekat, saatnya izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rosululloh ditarik. Nampak seluruh tubuh Rosululloh bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “ jibril, betapa sakit sakaratul maut ini” perlahan Rosululloh mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan jibril memalingkan muka. “ jijikah engaku melihatku, hingga kau palingkan wajahmu jibril?” Tanya Rosululloh pada jibril. “siapakah yang sanggup melihat kekasih Alloh direnggut ajal” kata jibril. Sebentar kemudian terdengar Rosululloh mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.


“ Ya Alloh, dasyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”. Badan Rosululloh mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “ Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum (peliharalah sholat dan peliharalah orang-orang yang lemah di antaramu).


Diluar pintu tangis sudah mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rosululloh yang mulai kebiruan. “ ummatii, ummatii, ummatii?” (“umatku, umatku, umatku”).


Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini mampukah kita mencintai sepertinya?? Allohumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya rosululloh kepada kita, sampai-sampai pada waktu ajal menjemputnya, beliau masih sempat memikirkan kita sebagai umatnya. Sedangkan kita sering melupakan beliau. Mari kita mencintai Alloh dan rosulNya seperti Alloh dan rosulNya mencintai kita.