Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati Planter Sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati Planter Sejati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Mei 2010

Catatan Hati Planter Sejati Episode 4: Aku, Gunung dan Laut

Matahari bersinar garang. Bola api maha panas itu seakan-akan raja siang yang bertahta di birunya langit. Seumpama Zeus yang bertahta di puncak Gunung Olympus. Angkuh dan tak terkalahkan! Gumpalan-gumpalan putih awan cumulus tak mampu meredam jutaan kalor yang terpancar, berpijar membakar muka bumi. Sementara itu, sinarnya yang membutakan terpantul di permukaan air rawa yang mengalir damai di lekuk-lekuk parit. Membiaskan semburat warna pelangi bak selendang tujuh bidadari.

Seekor ikan kecil berenang hilir-mudik, sesekali timbul di permukaan untuk sekedar mencuri nafas. Beberapa ekor ikan lainnya berlindung di bawah teduhnya gulma air seraya menyaksikan segerombolan ikan yang berenang menuju parit outlet, berharap bisa sampai ke perairan sungai Kendawangan yang payau. Gerombolan ikan itu seketika bubar berpencar arah saat kulemparkan sebongkah kerikil ke parit itu. Permukaan air parit itu beriak, membentuk lingkaran-lingkaran gelombang yang susul-menyusul. Nampaknya keisenganku itu telah membuat sedikit kepanikan di komunitas ikan kecil itu. Aku berlalu sambil menepis sedikit rasa sesal yang menyapa hati. Ikan kecil maafkan aku....

Aku terus melangkahkan kaki sambil membetulkan topi Eiger hitam yang kubeli di Pangkalan Bun, namun topi itu tak cukup mampu menghalau terik yang mendera epidermis kulitku, panasnya terasa kian membakar! Di kejauhan nampak Gunung Kediuk berdiri tegar. Meski hari demi hari semakin merana, gundul dan tak hijau lagi. Sekarat karena eksploitasi. Ya, di sinilah aku berada. Di kaki Gunung Kediuk dan di tepian laut Selat Karimata yang memisahkan Borneo dengan kepulauan Andalas. Divisi 3 Banjarsari Estate, Wilayah 5 BGA Group, Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Mencoba mengetuk pintu rizki yang halal dan berkah... (goresan sederhana 3 bulan di Kalbar).

Senin, 19 April 2010

Catatan Hati Planter Sejati Episode 3: Aku dan Perjalanan Panjang

Hujan masih mengiringi hari-hariku. Langit bagai sebuah tandon raksasa yang tak pernah kehabisan air untuk dicurahkan ke tanah Borneo. Matahari nampaknya tengah bermalas-malasan, bergelung dalam selimut tebal awan hitam. Ia enggan membagi kehangatan sinarnya untuk sekedar mengeringkan ruas jalan yang tergenang.

Jalanan yang telah jenuh, mentransformasikan fraksi tanah merah dan butir air menjadi lumpur merah yang mirip adonan mentega penghias kue ulang tahun. Akibatnya, jalan tak dapat terlewati truk pengangkut buah. Lautan lumpur merah licin itu dengan ganas menggerayangi roda-roda truk hingga tergelincir pasrah.


Seperti saat itu, aku meninggalkan kantor divisi ketika malam mulai merambat bagai sulur-sulur Mikania micrantha. Langit semakin kelam seperti tertutupi layar hitam panggung teater. Gelapnya telah menyembunyikan kerlap-kerlip cahaya bintang yang seharusnya menjadi ornamen yang mempercantik panggung malam. Sementara gerimis turun satu-satu, DT12, truk yang kutumpangi berjalan pelan menembus kegelapan berusaha menghindari jeratan lumpur yang genit. Hingga di ujung ruas jalan, DT12 mengakhiri simfoni deru mesin dan berhenti tepat di belakang DT21, truk pengangkut lainnya yg rupanya bingung memilih jalan. Belok kiri ada turunan licin yang terlalu perkasa untuk ditaklukkan, belok kanan ada truk yang terperosok. Dan kami pun diam. Menanti pagi, mungkin...


Ah, haruskah kuhabiskan malam di tengah ribuan hektar hutan sawit ini? Tidak! Aku turun dari truk dan mengamati sekelilingku. Siluet pelepah sawit yang bergoyang tertiup angin laksana tangan-tangan hantu yang siap menerkamku. Aku menatap beberapa ekor kunang-kunang Lampiridae yang beterbangan di antara rerumputan basah. Cahaya hijau terang serangga itu seolah-olah mengejekku yang tiada daya melawan gelap yang teramat pekat.


Aku enggan berdiam diri sembari mendonorkan darahku pada gerombolan nyamuk-nyamuk beringas, maka kulangkahkan kaki meninggalkan dua supir truk yang putus asa. Di kejauhan, kudengar gerungan suara mesin truk yang berjuang melepaskan diri dari kubangan lumpur. Aku pun melangkah terseok-seok menembus gerimis menuju truk yang menyedihkan itu. Aku merasa 5 cm lebih jangkung tanpa perlu susu Kalsium tinggi. Tanah merah yang liat itu tebal melapisi tapak boot-ku, membuat langkahku terasa berat.


Dengan susah payah, aku menghampiri truk yang ternyata DT24, yang kini pasrah, menanti bantuan FT- farm tractor. FT selalu menjelma jadi malaikat penyelamat bagi truk-truk yang terbenam di sepanjang jalan licin itu. Hingga FT itu tiba, dan berhasil menarik DT24 dari keterpurukan, malam semakin jauh tenggelam dalam lautan hitamnya. Kodok-kodok berceloteh bersahutan di parit-parit yang terisi air hujan. Mungkin tengah bercerita tentang kecebong-kecebong yang mulai tumbuh menjadi kodok muda. Seperti aku yang tengah berjuang untuk menjadi pribadi mandiri. Mendewasakan pikiran dan kelakuan.


Perjalanan panjang malam itu berakhir di peraduan kala hari telah berganti. Kucoba mengusir penat meski lelap hanya sesaat. Aku yakin tiadalah kesia-siaan dalam setiap tetes keringat ini. Lelah ini akan terlunaskan ketika harapku terjawab.

Minggu, 18 April 2010

Catatan Hati Planter Sejati Episode 2: Aku dan Rinai Hujan

Aku selalu terpesona memandang hujan. Hujan adalah melodi alam yang sarat misteri. Rinai gerimisnya adalah irama syahdu yang mendayu kala titik-titik hidrogen cair itu menyentuh lembut pucuk-pucuk hijau pepohonan dan rerumputan. Membasuh luruh segala debu. Derasnya adalah musik cadas menghentak kala nadanya mengalun dalam rangkaian notasi badai dan halilintar. Mungkin itu pula yang membuatku betah menghabiskan tahun demi tahun di Bogor, Kota Hujan penuh kenangan itu.

Hari ketiga OJT aku mengawasi kegiatan panen kelapa sawit. Menyaksikan peluh yang mengucur dari tiap lubang pori pemanen yang berpacu dengan target output. Meski tampak lelah, aku dapat melihat senyum riang serta kobaran semangat di mata Manuel, pemanen terbaik Divisi I Sepantaian Estate. Pria asal Flores ini telah mendedikasikan dirinya untuk hasil kerja yang lebih dari sekedar biasa.


Aku dan mandor panen bernama Pramono tengah menyusuri main road berdebu untuk supervisi di blok U27 ketika langit yang secerah wajah pengantin baru mendadak kelam. Awan hitam memenjara terik matahari. Gumpalannya bagai kapas putih yang tersiram tinta hitam pekat. Gelap! Kilat menyambar kalap, menampakkan kilatan pedang listrik jutaan megawatt. Suaranya yang menggelegar mencabik-cabik kesunyian. Sementara gerimis kecil mulai menjelma ribuan kubik air yang terjun bebas dari angkasa.


Aku tertegun, menengadah, merasakan air yang menampar-nampar wajahku. Lalu kuputuskan untuk berteduh di bawah pokok sawit. Sejenak terpikir olehku untuk berlari di tengah deras hujan, bermain dengan titik-titik air yang membentuk garis vertikal imajiner. Atau sekadar menerabas genangan air di parit kecil tepian jalan sambil berjingkrak riang di antara pepohonan sawit. Ah tidak! Aku takut jika tiba-tiba musik hindustani mengalun dan sekelompok lelaki pemanen dan perempuan pemupuk ikut menari berpasang-pasangan. Maaf, ini bukan pertunjukan film India! Dan kuputuskan untuk menikmati hujan sambil meringkuk dingin di bawah pokok sawit.


Rupanya pelepah-pelepah sawit yang tak seberapa tinggi itu tak mampu menghindarkanku dari pelukan hujan. Setiap inci tubuhku telah basah terjamah tetes air di ujung daun. Namun dinginnya terasa menghangatkan hatiku. Membangkitkan seribu kenangan masa laluku yang disaksikan derunya.


Kisah-kisah itu begitu lekat di kerut-merut keningku. Kenangan tentang dua bocah laki-laki yang beradu tinju di kubangan lumpur di antara percik hujan hanya untuk memperebutkan sepotong cinta ayah, raja yang membagi hati untuk dua permaisuri. Kenangan tentang sepasang merpati muda yang dibakar cinta, berlari bergandeng tangan disiram hujan sepulang sekolah. Dan kenangan tentang luapan perasaan seorang sahabat yang terluka setelah sekian tahun perang dingin yang sebeku hujan siang itu. Ah... Hujan telah menjadi teman berbagi dalam sepiku. Tempatku menitipkan selaksa rahasia hati. Saksi mati kisah hidupku. Hujan pun telah sedikit menawarkan asin air mataku.


Siang itu, hujan kembali mengajariku tentang arti perjuangan dan pengorbanan dalam hidup. Hujan berkisah tentang Manuel yang tetap sigap memanen kelapa sawit meski hujan mengguyur ganas. Tentang Pramono yang tak sungkan mengulurkan tangan untuk Manuel. Tentang Pak Tantang, Mandor I yang menjemputku pulang, meski tubuhnya menggigil didera dingin.


Terima kasih Ya Rabb atas segala karunia-Mu. Untuk hujan yang menemaniku... (meski pekerjaan jadi kacau bila turun hujan).

Catatan Hati Planter Sejati Episode 1: Aku dan Perjalanan Maha Elok

Masih dini hari kala itu, ketika aku harus memaksa membuka pelupuk mata. Mengaktivasi sel-sel kehidupan dan memaksa syaraf mengirim sinyal-sinyal sensorik-motorik ke sel-sel otak. Bangun! Hari pertama On the Job Training (OJT)!

Mengguyur tubuh dgn air cukup memberi kesegaran dan mengusir kantuk, meski lambungku menangis karena terpaksa beramah-tamah dengan nasi sepagi itu. Sujud subuh pun kuhayati meski tak sempat menyambangi masjid. Tuhan ampunilah aku...


Dengan sedikit memendam galau serta buta rencana, aku dan teman-teman OJT mengikuti lingkaran pagi bersama para estate manager dan asisten divisi. Tak ada yang spesial, semua hanya lembar-lembar kata yang berwujud kalimat perintah yang diakhiri seribu tanda seru.


Setelah lingkaran pagi diakhiri perjalanan menuju divisi dimulai. Dengan menunggangi kuda besi berkopling, yang pernah kutakuti, aku pun melaju dibonceng asisten tutorku. Sementara roda-roda sepeda motor itu terus bergulir di atas tanah laterit yang lembab, matahari mulai menyembul malu-malu di ufuk timur.


Pemandangan nampak begitu dramatis. Kabut tipis masih mengambang, menutupi dedahan kayu yang menggeliat, pucuk-pucuknya yang hijau meneteskan bulir-bulir air sebening kaca. Angin bertiup semilir, membawa semerbak aroma tanah basah. Aroma kesuburan yang menjanjikan.


Sepeda motor pun berlari kencang, kadang menanjak tinggi, sesekali menukik turun, lalu menikung di sebuah simpang setapak. Kami melewati wilayah inclave, sebuah desa mungil dengan beberapa rumah penduduk lokal yang sederhana namun menawarkan kedamaian.


Perjalanan belumlah usai. Mataku tak lepas memandang alam yang telanjang, membuka diri tanpa malu-malu. Mempersembahkan kenikmatan mata yang sulit kau temui di hiruk-pikuk aspal kota. Sepasang burung dara liar bercengkerama di ujung jalan, menyanyikan kicauan cinta, lalu terbang menjauh kala deru mesin motor merusak kicau merdunya.


Serangga-serangga nokturnal yang kesiangan terbang terburu-buru, mengingatkanku pada gerombolan karyawan yang takut ketinggalan KRL Ekonomi tujuan Bogor-Jakarta. Seekor ngengat bersayap kelabu terbang menabrak pipi kananku hingga aku pun berpaling hindar ke arah kiri.


Saat itulah mataku menatap hamparan Imperata cylindrica yang tengah berbunga. Hamparan bunga putihnya bagai permadani sutera putih yang lembut. Ah, tidak! Lebih tepat jika kusebut bagai hamparan salju putih pegunungan Alpen yang beku. Di sisinya, Melastoma yang berbunga ungu menarik perhatian tiga ekor lebah pemburu pollen. Sungguh, harmoni pagi yang maha elok.


Perjalanan sudah mulai memasuki wilayah divisiku. Di kiri dan kanan jalan pokok-pokok kelapa sawit berbaris rapi, seolah-olah pasukan prajurit siap tempur. Mucuna bracteata yang menjalar liar, jalin-menjalin bagai tilam sutera hijau nan empuk. Menanti untuk ditiduri.


Beberapa kelompok janjang kelapa sawit yang tak sempat terangkut terlihat bermuram durja menanti kabar, bilakah ia bersua mesin pengolah. Laksana seorang sahabat yang merindukan kabar sahabatnya nun jauh di sana.


Akhirnya, motor itu berbelok dan berhenti tak jauh dari sebuah musholah kecil. Kesibukan terlihat di mana-mana. Ciri khas kehidupan pagi di perkebunan. Para karyawan hilir mudik mempersiapkan peralatan kerja. Para mandor mengabsensi karyawan yang berbaris rapi. Aku mengikuti langkah asisten tutorku, bergabung dengan mandor lalu memberi pengarahan singkat dan memperkenalkan aku.


Berpasang-pasang mata karyawan itu melahapku penuh rasa ingin tahu. Seorang ibu separuh baya berdarah Flores memandangku sambil tersenyum usil, mungkin ia membayangkan aku adalah siswa sekolah dasar dengan seragam putih-putih yang tersasar ke kebun sawit. Ah terserahlah! Meski tersiksa, seragam ini adalah identitasku.


Dan, hari-hari penuh perjuangan itu pun dimulai......