Hujan masih mengiringi hari-hariku. Langit bagai sebuah tandon raksasa yang tak pernah kehabisan air untuk dicurahkan ke tanah Borneo. Matahari nampaknya tengah bermalas-malasan, bergelung dalam selimut tebal awan hitam. Ia enggan membagi kehangatan sinarnya untuk sekedar mengeringkan ruas jalan yang tergenang.Jalanan yang telah jenuh, mentransformasikan fraksi tanah merah dan butir air menjadi lumpur merah yang mirip adonan mentega penghias kue ulang tahun. Akibatnya, jalan tak dapat terlewati truk pengangkut buah. Lautan lumpur merah licin itu dengan ganas menggerayangi roda-roda truk hingga tergelincir pasrah.
Seperti saat itu, aku meninggalkan kantor divisi ketika malam mulai merambat bagai sulur-sulur Mikania micrantha. Langit semakin kelam seperti tertutupi layar hitam panggung teater. Gelapnya telah menyembunyikan kerlap-kerlip cahaya bintang yang seharusnya menjadi ornamen yang mempercantik panggung malam. Sementara gerimis turun satu-satu, DT12, truk yang kutumpangi berjalan pelan menembus kegelapan berusaha menghindari jeratan lumpur yang genit. Hingga di ujung ruas jalan, DT12 mengakhiri simfoni deru mesin dan berhenti tepat di belakang DT21, truk pengangkut lainnya yg rupanya bingung memilih jalan. Belok kiri ada turunan licin yang terlalu perkasa untuk ditaklukkan, belok kanan ada truk yang terperosok. Dan kami pun diam. Menanti pagi, mungkin...
Ah, haruskah kuhabiskan malam di tengah ribuan hektar hutan sawit ini? Tidak! Aku turun dari truk dan mengamati sekelilingku. Siluet pelepah sawit yang bergoyang tertiup angin laksana tangan-tangan hantu yang siap menerkamku. Aku menatap beberapa ekor kunang-kunang Lampiridae yang beterbangan di antara rerumputan basah. Cahaya hijau terang serangga itu seolah-olah mengejekku yang tiada daya melawan gelap yang teramat pekat.
Aku enggan berdiam diri sembari mendonorkan darahku pada gerombolan nyamuk-nyamuk beringas, maka kulangkahkan kaki meninggalkan dua supir truk yang putus asa. Di kejauhan, kudengar gerungan suara mesin truk yang berjuang melepaskan diri dari kubangan lumpur. Aku pun melangkah terseok-seok menembus gerimis menuju truk yang menyedihkan itu. Aku merasa 5 cm lebih jangkung tanpa perlu susu Kalsium tinggi. Tanah merah yang liat itu tebal melapisi tapak boot-ku, membuat langkahku terasa berat.
Dengan susah payah, aku menghampiri truk yang ternyata DT24, yang kini pasrah, menanti bantuan FT- farm tractor. FT selalu menjelma jadi malaikat penyelamat bagi truk-truk yang terbenam di sepanjang jalan licin itu. Hingga FT itu tiba, dan berhasil menarik DT24 dari keterpurukan, malam semakin jauh tenggelam dalam lautan hitamnya. Kodok-kodok berceloteh bersahutan di parit-parit yang terisi air hujan. Mungkin tengah bercerita tentang kecebong-kecebong yang mulai tumbuh menjadi kodok muda. Seperti aku yang tengah berjuang untuk menjadi pribadi mandiri. Mendewasakan pikiran dan kelakuan.
Perjalanan panjang malam itu berakhir di peraduan kala hari telah berganti. Kucoba mengusir penat meski lelap hanya sesaat. Aku yakin tiadalah kesia-siaan dalam setiap tetes keringat ini. Lelah ini akan terlunaskan ketika harapku terjawab.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar