Masih dini hari kala itu, ketika aku harus memaksa membuka pelupuk mata. Mengaktivasi sel-sel kehidupan dan memaksa syaraf mengirim sinyal-sinyal sensorik-motorik ke sel-sel otak. Bangun! Hari pertama On the Job Training (OJT)!Mengguyur tubuh dgn air cukup memberi kesegaran dan mengusir kantuk, meski lambungku menangis karena terpaksa beramah-tamah dengan nasi sepagi itu. Sujud subuh pun kuhayati meski tak sempat menyambangi masjid. Tuhan ampunilah aku...
Dengan sedikit memendam galau serta buta rencana, aku dan teman-teman OJT mengikuti lingkaran pagi bersama para estate manager dan asisten divisi. Tak ada yang spesial, semua hanya lembar-lembar kata yang berwujud kalimat perintah yang diakhiri seribu tanda seru.
Setelah lingkaran pagi diakhiri perjalanan menuju divisi dimulai. Dengan menunggangi kuda besi berkopling, yang pernah kutakuti, aku pun melaju dibonceng asisten tutorku. Sementara roda-roda sepeda motor itu terus bergulir di atas tanah laterit yang lembab, matahari mulai menyembul malu-malu di ufuk timur.
Pemandangan nampak begitu dramatis. Kabut tipis masih mengambang, menutupi dedahan kayu yang menggeliat, pucuk-pucuknya yang hijau meneteskan bulir-bulir air sebening kaca. Angin bertiup semilir, membawa semerbak aroma tanah basah. Aroma kesuburan yang menjanjikan.
Sepeda motor pun berlari kencang, kadang menanjak tinggi, sesekali menukik turun, lalu menikung di sebuah simpang setapak. Kami melewati wilayah inclave, sebuah desa mungil dengan beberapa rumah penduduk lokal yang sederhana namun menawarkan kedamaian.
Perjalanan belumlah usai. Mataku tak lepas memandang alam yang telanjang, membuka diri tanpa malu-malu. Mempersembahkan kenikmatan mata yang sulit kau temui di hiruk-pikuk aspal kota. Sepasang burung dara liar bercengkerama di ujung jalan, menyanyikan kicauan cinta, lalu terbang menjauh kala deru mesin motor merusak kicau merdunya.
Serangga-serangga nokturnal yang kesiangan terbang terburu-buru, mengingatkanku pada gerombolan karyawan yang takut ketinggalan KRL Ekonomi tujuan Bogor-Jakarta. Seekor ngengat bersayap kelabu terbang menabrak pipi kananku hingga aku pun berpaling hindar ke arah kiri.
Saat itulah mataku menatap hamparan Imperata cylindrica yang tengah berbunga. Hamparan bunga putihnya bagai permadani sutera putih yang lembut. Ah, tidak! Lebih tepat jika kusebut bagai hamparan salju putih pegunungan Alpen yang beku. Di sisinya, Melastoma yang berbunga ungu menarik perhatian tiga ekor lebah pemburu pollen. Sungguh, harmoni pagi yang maha elok.
Perjalanan sudah mulai memasuki wilayah divisiku. Di kiri dan kanan jalan pokok-pokok kelapa sawit berbaris rapi, seolah-olah pasukan prajurit siap tempur. Mucuna bracteata yang menjalar liar, jalin-menjalin bagai tilam sutera hijau nan empuk. Menanti untuk ditiduri.
Beberapa kelompok janjang kelapa sawit yang tak sempat terangkut terlihat bermuram durja menanti kabar, bilakah ia bersua mesin pengolah. Laksana seorang sahabat yang merindukan kabar sahabatnya nun jauh di sana.
Akhirnya, motor itu berbelok dan berhenti tak jauh dari sebuah musholah kecil. Kesibukan terlihat di mana-mana. Ciri khas kehidupan pagi di perkebunan. Para karyawan hilir mudik mempersiapkan peralatan kerja. Para mandor mengabsensi karyawan yang berbaris rapi. Aku mengikuti langkah asisten tutorku, bergabung dengan mandor lalu memberi pengarahan singkat dan memperkenalkan aku.
Berpasang-pasang mata karyawan itu melahapku penuh rasa ingin tahu. Seorang ibu separuh baya berdarah Flores memandangku sambil tersenyum usil, mungkin ia membayangkan aku adalah siswa sekolah dasar dengan seragam putih-putih yang tersasar ke kebun sawit. Ah terserahlah! Meski tersiksa, seragam ini adalah identitasku.
Dan, hari-hari penuh perjuangan itu pun dimulai......
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar