Minggu, 18 April 2010

Catatan Hati Planter Sejati Episode 2: Aku dan Rinai Hujan

Aku selalu terpesona memandang hujan. Hujan adalah melodi alam yang sarat misteri. Rinai gerimisnya adalah irama syahdu yang mendayu kala titik-titik hidrogen cair itu menyentuh lembut pucuk-pucuk hijau pepohonan dan rerumputan. Membasuh luruh segala debu. Derasnya adalah musik cadas menghentak kala nadanya mengalun dalam rangkaian notasi badai dan halilintar. Mungkin itu pula yang membuatku betah menghabiskan tahun demi tahun di Bogor, Kota Hujan penuh kenangan itu.

Hari ketiga OJT aku mengawasi kegiatan panen kelapa sawit. Menyaksikan peluh yang mengucur dari tiap lubang pori pemanen yang berpacu dengan target output. Meski tampak lelah, aku dapat melihat senyum riang serta kobaran semangat di mata Manuel, pemanen terbaik Divisi I Sepantaian Estate. Pria asal Flores ini telah mendedikasikan dirinya untuk hasil kerja yang lebih dari sekedar biasa.


Aku dan mandor panen bernama Pramono tengah menyusuri main road berdebu untuk supervisi di blok U27 ketika langit yang secerah wajah pengantin baru mendadak kelam. Awan hitam memenjara terik matahari. Gumpalannya bagai kapas putih yang tersiram tinta hitam pekat. Gelap! Kilat menyambar kalap, menampakkan kilatan pedang listrik jutaan megawatt. Suaranya yang menggelegar mencabik-cabik kesunyian. Sementara gerimis kecil mulai menjelma ribuan kubik air yang terjun bebas dari angkasa.


Aku tertegun, menengadah, merasakan air yang menampar-nampar wajahku. Lalu kuputuskan untuk berteduh di bawah pokok sawit. Sejenak terpikir olehku untuk berlari di tengah deras hujan, bermain dengan titik-titik air yang membentuk garis vertikal imajiner. Atau sekadar menerabas genangan air di parit kecil tepian jalan sambil berjingkrak riang di antara pepohonan sawit. Ah tidak! Aku takut jika tiba-tiba musik hindustani mengalun dan sekelompok lelaki pemanen dan perempuan pemupuk ikut menari berpasang-pasangan. Maaf, ini bukan pertunjukan film India! Dan kuputuskan untuk menikmati hujan sambil meringkuk dingin di bawah pokok sawit.


Rupanya pelepah-pelepah sawit yang tak seberapa tinggi itu tak mampu menghindarkanku dari pelukan hujan. Setiap inci tubuhku telah basah terjamah tetes air di ujung daun. Namun dinginnya terasa menghangatkan hatiku. Membangkitkan seribu kenangan masa laluku yang disaksikan derunya.


Kisah-kisah itu begitu lekat di kerut-merut keningku. Kenangan tentang dua bocah laki-laki yang beradu tinju di kubangan lumpur di antara percik hujan hanya untuk memperebutkan sepotong cinta ayah, raja yang membagi hati untuk dua permaisuri. Kenangan tentang sepasang merpati muda yang dibakar cinta, berlari bergandeng tangan disiram hujan sepulang sekolah. Dan kenangan tentang luapan perasaan seorang sahabat yang terluka setelah sekian tahun perang dingin yang sebeku hujan siang itu. Ah... Hujan telah menjadi teman berbagi dalam sepiku. Tempatku menitipkan selaksa rahasia hati. Saksi mati kisah hidupku. Hujan pun telah sedikit menawarkan asin air mataku.


Siang itu, hujan kembali mengajariku tentang arti perjuangan dan pengorbanan dalam hidup. Hujan berkisah tentang Manuel yang tetap sigap memanen kelapa sawit meski hujan mengguyur ganas. Tentang Pramono yang tak sungkan mengulurkan tangan untuk Manuel. Tentang Pak Tantang, Mandor I yang menjemputku pulang, meski tubuhnya menggigil didera dingin.


Terima kasih Ya Rabb atas segala karunia-Mu. Untuk hujan yang menemaniku... (meski pekerjaan jadi kacau bila turun hujan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar