Sabtu, 24 April 2010

Surat dari seorang akhwat untukmu wahai ikhwan yang akan ta'aruf

Bismillah....
Izinkan aku bicara dari hati seorang wanita, yang mungkin bisa mewakili
suara saudara-saudaraku, para akhwat pada umumnya.
Proses ta’aruf merupakan suatu proses awal menuju proses
selanjutnya, yaitu khitbah dan akhirnya sebuah pernikahan. Memang tidak
semua sukses sampe tahap itu. Sang Sutradaralah yang mengatur. Semua adalah
skenario dan rekayasaNya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan
tetap dalam genggamanNya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup
adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka, mau sukses ato
gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan.

Aku ingin titip pesan pada para ikhwan yang sdh memutuskan hendak

melontarkan perkataan ta’aruf pada seorang akhwat;
Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik, matang-matang, dan masak-masak
sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah
melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya.
Mengertilah keadaan akhwat. Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih
sensitif. Akhwat mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui
atau tidak, akhwat adalah makhluk yang kadang mudah sekali GeEr, suka
disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih.

Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang

lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi akhwat untuk
menolak. Karena jika akhwat menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya
fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antum, apakah
kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah
antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum
benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin
ikatan suci bernama pernikahan? Sekali lagi, berhati-hatilah dengan kata
ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan.

Proses ta’aruf menuju pernikahan memerlukan sebuah rentang waktu

tertentu. Bila diibaratkan ta’aruf adalah pintu halaman ruman antum dan
pernikahan adalah pintu rumah antum, kemudian timbul pertanyaan, berapa
jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? padahal selama
perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah
antum bisa membuat akhwat terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat
akhwat terlena. Ingin sekali akhwat memetiknya, ingin sekali akhwat
berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan.
Tapi tdk berhak, karena belum mendapat izin dari si empunya rumah.

Akhwat ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum

menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat akhwat lupa akan tujuan semula.
Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan
akhwatpun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah
akhwat mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah
antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya. Saat itulah
hati akhwat hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan terangkai, tapi
kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan
membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat. Lalu antum
membiarkan akhwat menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang membuat
akhwat kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan akhwat
berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum
siap membukakan pintu untuknya. Akhwat akan segera pulang karena mungkin
saja salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya
hati mereka. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung mereka dari
teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Mereka tak ingin
mengkhianati calon suami mereka yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu
calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara mereka
berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.

Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan.

Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak
berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya.
Kita tentunya tdk mau memakai label ta’aruf untuk membungkus suatu
kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma
menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai akhwat sebagai saudara
antum. Akhwat bukan kelinci percobaan. Akhwat punya perasaan yang tidak
berhak antum buat coba-coba. Pikirkanlah kembali. Mintalah
petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput
mereka.

Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum

menjemput. Tentunya kita menginginkan kata ta’aruf berkah di awal, di tengah,
sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang
menjadi tujuan. Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa
mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari
yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang
tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk
menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya
antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya
sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih
keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama
perjalanan. Jadi, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat
dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan
keberkahanNya.

Semoga pesan ini bisa menjadi bahan renungan antum, para ikhwan, calon

qowwam kami (para akhwat) dalam mengarungi bahtera rumah tangga Islami yang
akan melahirkan generasi penyeru dan pembela agama ALLAH. Akhirnya aku minta
maaf, afwan jiddan bila dalam pesan ini ada hal-hal yg kurang akhsan..
 

kutipan dari: Ummu 'Aisy Bintu Ilham

Tidak ada komentar:

Posting Komentar