Kamis, 29 April 2010

CBSA : Cinta Bersemi Sesama Aktivis


Dalam pergulatan dinamika kampus dikenal istilah “aktivis” untuk menyebut mahasiswa/mahasiswi yang menghabiskan waktunya berorganisasi di luar kegiatan perkuliahan. Mereka biasanya tergabung dalam berbagai organisasi, baik ektra kampus maupun intra kampus. Merujuk kepada organisasi yang diikuti, para aktivis ini bisa dikategorisasikan dalam berbagai varian. Salah satu varian itu adalah “aktivis dakwah kampus” yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
 
Selain bergabung dalam forum dakwah intra kampus, para aktivis ini juga berafiliasi dengan berbagai organisasi Islam yang lebih besar seperti IMM (underground Muhammadiyah), PMII (underground NU), KAMMI (underground PKS), atau tergabung kepada jama’ah dakwah yang sifatnya transnasional seperti Salafy, HTI, ataupun Jama’ah Tabligh.

Kebutuhan akan eksistensi organisasi, tentu banyak kegiatan yang digarap oleh para aktivis dakwah ini. Apalagi perebutan kader baru di kampus memerlukan energi ekstra dan promosi besar-besaran. Terkadang harus sikut-sikutan untuk mendapatkan kader baru potensial. Belum lagi kerja keras untuk mengajak mahasiswa/mahasiswi baru untuk bergabung. Beberapa organisasi dakwah kampus bahkan melakukan upaya jemput bola ke SMA-SMK.

Tidak hanya melakukan proses rekruitmen, para aktivis dakwah kampus juga disibukkan dengan kegiatan-kegiatan keislaman rutin. Ada yang harian, mingguan, bulanan, ataupun tahunan. Pokoknya menjadi aktivis dakwah harus siap-siap menjadi orang sibuk.

Intensitas pertemuan yang sering di antara aktivis dakwah satu organisasi telah membuat mereka memiliki ikatan emosional satu sama lain. Tak dapat dipungkiri kedekatan di antara aktivis yang pria dengan aktivis yang perempuan juga tak dapat dielakkan. Saat itulah keakraban bermetamorfosa menjadi rasa cinta.

“Sialnya”, stigma yang berkembang di dunia mahasiswa secara umum, aktivis dakwah dipandang sebagai “orang suci”. Mereka punya aturan-aturan ketat terkait pergaulan di antara lawan jenis. Pacaran itu haram, tidak boleh jabat tangan, boncengan, berdua-dua-an, tak boleh menatap wajah lawan bicara bahkan ada yang ketika rapat harus memakai kain pembatas antara pria dan wanita, adalah rambu-rambu yang telah familiar bagi mereka. Gaya bergaul yang “ketat” ini semakin menguatkan pandangan eksklusif “mahasiswa/mahasiswi biasa” terhadap para aktivis dakwah.

Namun, se-sholeh/sholehah apapun orang, godaan setan tidak henti mengempur. Begitu juga yang mendera para “ikwan” dan “akhwat” para aktivis dakwah kampus. Dari sekian banyak di antara mereka yang mampu menjaga hati terhadap lawan jenis, banyak juga yang akhirnya terjerumus melanggar “kode etik” antara ikhwan dan akhwat. Terkadang melebihi aktifitas yang biasa dilakukan oleh mahasiswa/mahasiswi biasa dalam berpacaran.

Suatu ketika, seorang ustadz yang menjadi pembimbing Jama’ah Shalahuddin UGM menceritakan kedatangan seorang aktivis ke rumahnya. Dengan tersedu-sedu sang pemuda ini mengatakan, “Ustadz, saya mau taubat. Saya malu sama Allah. Saya hina, Ustadz”. Ustadz yang melihat gelagat tak biasa dari ikhwan ini mencoba untuk menenangkan, “Iya, tapi masalah antum apa?”. Setelah menghirup nafas panjang barulah sang pemuda bercerita:

“Begini Ustadz, beberapa hari yang lalu seperti biasa saya beraktivitas di sekretariat. Duduk di depan komputer membuat beberapa laporan kegiatan organisasi. Ketika saya asyik mengutak-atik keyboard, satu per satu teman pamit pulang ke kos. Tanpa saya sadari tinggallah saya berdua dengan seorang akhwat yang kebetulan menjabat sekretaris organisasi. Dia juga sibuk di depan komputer. Telah lama saya menyukai akhwat ini, tapi saya belum berani menyatakan perasaan saya. Orangnya cantik, smart, dan militan banget. Saya-pun menghampirinya. Dengan tersedat saya memberanikan menyampaikan sesuatu. ‘Ukhti, telah lama kita sama-sama mengurus dan bekerja untuk kemajuan organisasi ini. Hari demi hari saya terpukau dengan pengorbanan yang telah ukhti lakukan untuk organisasi. Terus terang Ukhti, saya menyukai antum.’ Sang akhwat-pun tertunduk, tersipu malu. Hatinya bergemuruh, iapun juga menyukai pemuda penuh dedikasi yang saat ini duduk di hadapannya. Tak tahan dengan gelojak di dadanya, sang ikhwan kemudian kembali menyusun kata-kata. ‘Ukhti, ana mencintai anti. Bolehkan ana memegang tangan anti?’ Sang akhwat mengangguk pelan. Merasa mendapat peluang, sang ikhwan-pun menjulurkan tangannya mendekati tangan sang akhwat yang berpangku di atas paha. Tangan sang pria kemudian mengenggam tang sang gadis. Semakin lama semakin erat, seolah sedang mengalirkan gelombang cinta. Kemudian sang ikhwan bergumam, ‘Ukhti, aku teramat cinta padamu. Boleh aku mengecup keningmu?’. Sang akhwat terbuai alunan asmara, kembali mengangguk pelan sebagai tanda mengiyakan. Mulailah kepala sang pria bergerak menuju face sang akhwat. Hingga terjadilah ciuman romantis di antara dua anak manusia ini”.


Penulis menyadari ini adalah kasus kasuistis. Tapi kasus-kasus cinta bersemi di antara aktivis hingga berlanjut seperti dua anak muda yang saling pacaran, teramat sering penulis temui.

Tentu pertanyaannya, apakah sesama aktivis tidak boleh jatuh cinta? Kita harus menyadari sepenuhnya, meskipun para aktivis dakwah telah dibalut dengan aturan-aturan serta kode etik yang menjaga mereka untuk tidak jatuh dalam jeratan kemaksiatan di antara lawan jenis sebagaimana yang diajarkan oleh agama, namun mereka juga manusia biasa yang punya perasaan, rasa suka, mata yang menyenangi kecantikan/ketampanan, dan hati untuk mencinta ataupun dicintai.

Namun, posisi mereka yang sudah kadung dianggap sebagai “orang suci” oleh komunitas mahasiswa secara umum, membuat perilaku pacaran ala aktivis mendapat cibiran dan cemoohan yang menyakitkan. Memang tak mudah menjadi aktivis dakwah. Tidak hanya harus bercapek-capek mengurusi aktivitas dakwah, tapi harus juga menjaga diri dari perilaku permisif yang konon sangat aib dilakukan oleh para aktivis dakwah.

Tapi itulah konsekuensi sebagai aktivis dakwah. Ada nama agama yang mesti dijaga. Ada kode etik tersendiri yang mesti diikuti. Tapi apakah dengan kode etik dan amanah untuk menjaga nama baik agama itu serta-merta menjadikan mereka seperti Malaikat tanpa rasa cinta dan nafsu manusiawi?

Tentunya tidak mesti seperti itu. Sering rapat bersama, keluar kota bersama, berlelah-lelah bersama lewat berbagai kegiatan tak menutup kemungkinan adanya rasa simpati, empati, dan rasa memiliki. Ketika semua rasa kepedulian itu meningkat menjadi rasa cinta, maka segeralah benahi hati. Jika memang sudah tak dapat dibendung lagi tentu memutuskan untuk melamar sang “pencuri hati” perlu segera dilakukan. Agar semua yang haram menjadi halal, dan kehormatan nama aktivis dakwah-pun tetap dipertahankan.

Mengadulah kepada kekasihmu

Ketahuilah,bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah suatu permainan. (QS Al Hadiid, 57:20)
Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis ( QS. An Najm, 53:43)

Sahabat, kita ini sesungguhnya sedang bermain dalam sebuah panggung kehidupan yang diciptakanNya.Dengan berbagai peran,keadaan, dan penjiwaan.

Peran apa yang sedang engkau mainkan? Seorang yang kaya ataukah miskin? Kaya jiwa ataukah harta? Miskin harta ataukah bathin? Seorang insan yang penuh duka ataukah seorang hamba yang senantiasa ceria dan bahagia? Suatu ketika kita akan tertawa,dan lain waktu kita juga akan dipaksa menangis.Masya Allah, itulah Kuasa-Nya Allah. (Subhanallah,walhamdulilah

,walaailaa ha ilallah,Wallaahu Akbar)

Duhai yang sedang dilanda duka,La tahzan wala takhof,janganlah sedih dan janganlah takut.Allah SWT berfirman:

Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak pula benci kepadamu. (QS. Ad Dhuha, 93:3)

Dekati Dia ...

Bukankah dengan Sifat Maha Penyayang-Nya engkau sebut Dia yang Tersayang? Bukankah dengan Sifat Maha Pengasihnya engkau sebut Dia Sang Kekasih?! Mengadulah Pada Kekasihmu!

Dia akan menguatkan jiwamu,meneteramkan qolbumu.Dia sebaik-baiknya penolong.Sebaik-baik pelindung. Percayakan semua pada-Nya karena dalam cinta,harus ada kepercayaan. Ucapkan padaNYa, "Yaa habibi ... wahai Kekasihku, aku ingin mengadu padaMu."

Dengan kelebutan-Nya, Ia berfirman :

Bangunlah untuk shalat di malam hari. 9Yaitu seperduanya atau kurang dari padanya sedikit.Atau lebih atasnya. (QS. Al Muzzammil, 73:2-4)

Shalatlah dengan penuh rasa cinta dan kerinduan. Itu akan membutmu khusyu�. Kemudian tumpahkanlah segala yang menyesakkan dadamu. curahkan segala isi hatimu,gundah gelisahmu,sampaikan semua pada-Nya. Dengan ungkapan pilu, ataupun didirngi tangisan yang lembut. Karena sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pendengar.

Dan Berdoalah dengan penuh harap,rendah diri, dan suara perlahan. Seperti do�a yang diajarkan-Nya.:

Rabbi adkhilni mudkhala sidqi-wa akhrijnii mukhraja sidqin-waj �al lii min-ladunka sulthaanan nashiraa.

Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar keluarkanlah(pula) akan secara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong . (QS. Al Israa, 17:80)

Ataupun doa-doa lain yang menjadi keinginan. Hantarkan ia dengan bahasa yang mudah bagimu, dan jangan pernah merasa sunkan.

Rasullulah s. a. w. bersabda:
Sesungguhnya Raabmu itu pemalu lagi pemurah, merasa maulu apabila tidka mengabulkan do�a kepada hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa lalu dikembalikan kosong. ( HR. Muslim )

Nah, bagaimana keadaanmu sekarang? Terasa ringan, bukan ? Insya Allah. Dan saat-saat yang indah bersama-Nya ini takkan pernah kau lupakan. Di mana engkau akan senantiasa rindu dan ingin selalu menjumpai-Nya. Jika tak bertemu sehari saja. ada sesuatu yang hilang. Dia pun semakin sayang dan cinta padamu.

Sesungguhnya, Sang Kekasih itu senntiasa ada bersamu, tak pernah jauh. Dia begitu dekat, sangat dekat. Mampukah engkau menangkap keberadaan-Nya?

Dia ada disini ... melihat aku menulis untukmu.

Dan melihatmu ... yang kini sedang meresapinya.

Dengarkanlah bisik qalbumu ... dan engkau pun akan merasakannya ...

Sabtu, 24 April 2010

Surat dari seorang akhwat untukmu wahai ikhwan yang akan ta'aruf

Bismillah....
Izinkan aku bicara dari hati seorang wanita, yang mungkin bisa mewakili
suara saudara-saudaraku, para akhwat pada umumnya.
Proses ta’aruf merupakan suatu proses awal menuju proses
selanjutnya, yaitu khitbah dan akhirnya sebuah pernikahan. Memang tidak
semua sukses sampe tahap itu. Sang Sutradaralah yang mengatur. Semua adalah
skenario dan rekayasaNya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan
tetap dalam genggamanNya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup
adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka, mau sukses ato
gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan.

Aku ingin titip pesan pada para ikhwan yang sdh memutuskan hendak

melontarkan perkataan ta’aruf pada seorang akhwat;
Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik, matang-matang, dan masak-masak
sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah
melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya.
Mengertilah keadaan akhwat. Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih
sensitif. Akhwat mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui
atau tidak, akhwat adalah makhluk yang kadang mudah sekali GeEr, suka
disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih.

Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang

lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi akhwat untuk
menolak. Karena jika akhwat menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya
fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antum, apakah
kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah
antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum
benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin
ikatan suci bernama pernikahan? Sekali lagi, berhati-hatilah dengan kata
ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan.

Proses ta’aruf menuju pernikahan memerlukan sebuah rentang waktu

tertentu. Bila diibaratkan ta’aruf adalah pintu halaman ruman antum dan
pernikahan adalah pintu rumah antum, kemudian timbul pertanyaan, berapa
jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? padahal selama
perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah
antum bisa membuat akhwat terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat
akhwat terlena. Ingin sekali akhwat memetiknya, ingin sekali akhwat
berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan.
Tapi tdk berhak, karena belum mendapat izin dari si empunya rumah.

Akhwat ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum

menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat akhwat lupa akan tujuan semula.
Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan
akhwatpun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah
akhwat mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah
antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya. Saat itulah
hati akhwat hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan terangkai, tapi
kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan
membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat. Lalu antum
membiarkan akhwat menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang membuat
akhwat kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan akhwat
berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum
siap membukakan pintu untuknya. Akhwat akan segera pulang karena mungkin
saja salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya
hati mereka. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung mereka dari
teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Mereka tak ingin
mengkhianati calon suami mereka yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu
calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara mereka
berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.

Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan.

Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak
berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya.
Kita tentunya tdk mau memakai label ta’aruf untuk membungkus suatu
kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma
menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai akhwat sebagai saudara
antum. Akhwat bukan kelinci percobaan. Akhwat punya perasaan yang tidak
berhak antum buat coba-coba. Pikirkanlah kembali. Mintalah
petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput
mereka.

Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum

menjemput. Tentunya kita menginginkan kata ta’aruf berkah di awal, di tengah,
sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang
menjadi tujuan. Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa
mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari
yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang
tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk
menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya
antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya
sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih
keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama
perjalanan. Jadi, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat
dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan
keberkahanNya.

Semoga pesan ini bisa menjadi bahan renungan antum, para ikhwan, calon

qowwam kami (para akhwat) dalam mengarungi bahtera rumah tangga Islami yang
akan melahirkan generasi penyeru dan pembela agama ALLAH. Akhirnya aku minta
maaf, afwan jiddan bila dalam pesan ini ada hal-hal yg kurang akhsan..
 

kutipan dari: Ummu 'Aisy Bintu Ilham